Sosiolog agama Peter L. Berger menjelaskan bahwa iman hidup dalam “plausibility structure”, lingkungan sosial yang menopang keyakinan. Ketika lingkungan berubah, iman ikut terpengaruh. Media sosial hari ini menciptakan lingkungan baru yang sering kali bertabrakan dengan nilai iman, pamer menggantikan ikhlas, validasi publik menggantikan ridha Allah, dan viralitas mengalahkan kebijaksanaan.
Ghibah digital hanyalah satu gejala. Di baliknya, ada pergeseran orientasi hati. Jika dulu seorang beriman takut pada murka Allah, hari ini banyak orang justru takut tidak dilihat, tidak direspons, atau tertinggal dari arus percakapan daring. Harapan pun bergeser, dari pahala menuju likes dan views, bahkan mengngagement orang lain untuk terlibat.
Neil Postman mengingatkan bahwa media hiburan tidak hanya mengubah apa yang kita konsumsi, tetapi cara kita berpikir. Media sosial mempercepat stimulus dan memperlambat pemulihan emosi. Kita mudah terpancing, cepat bereaksi, tetapi sulit merenung. Padahal iman membutuhkan jeda. Ia tumbuh dalam tafakkur, kesadaran, dan keheningan, bukan dalam guliran tanpa henti.
Keluarga berada di titik paling rawan. Rumah yang seharusnya menjadi inkubator iman sering kali ikut tenggelam dalam kebisingan digital. Orang tua sibuk dengan gawai, anak belajar dari algoritma, dan percakapan mendalam tergantikan oleh layar. Kita menyebutnya istirahat, padahal sering kali hanya pelarian.
Tulisan ini bukan ajakan membenci teknologi. Media sosial bukan musuh iman. Namun ia bisa menjadi ruang yang menggerus iman jika tidak disikapi dengan kesadaran. Kita memerlukan literasi iman di ruang digital, kemampuan menahan diri, menyaring respons, dan sadar bahwa tidak semua yang bisa dikomentari harus dikomentari.

















