Mengapa saya optimis?
Pertama, ini klop dengan visi Presiden Prabowo: kedaulatan ekonomi yang bertumpu pada hilirisasi dan ketahanan. Danantara, yang diluncurkan Februari 2025 dan disiapkan sebagai vehicle konsolidasi nilai BUMN besar (dengan total aset gabungan di atas US$900 miliar), memberi “mesin” kelembagaan untuk menyerap dan menyalurkan dana murah secara strategis. Kalau ribuan triliun dana yang selama ini “liar” berhasil dipanggil pulang, Indonesia meloncat kelas—dari sekadar tumbuh, menjadi negara besar. Saya betul-betul optimis.
Kedua, makro kita lagi mendukung: inflasi Juli 2025 2,37% yoy (di tengah sasaran BI 1,5–3,5%), yield SUN 10-tahun ~6,3%, dan likuiditas domestik (M2) terus tumbuh. Kombinasi ini menciptakan jendela kebijakan untuk mengarahkan dana murah ke prioritas rakyat tanpa mengoyak stabilitas.
Ketiga, efek pengganda: dengan PDB 2024 Rp22.139 triliun, mengalihkan sekadar 2% dari DPK (±Rp186 triliun) ke proyek hilirisasi dan infrastruktur ber-multiplier tinggi bisa menciptakan lapangan kerja, substitusi impor, dan basis pajak baru. Itulah flywheel kedaulatan ekonomi—dana pulang → proyek jalan → pajak naik → defisit terkendali.
Tapi syaratnya tiga: transparansi, target, tata kelola
- Transparansi seterang matahari. Publik harus tahu proyek apa yang dibiayai, biaya per unit (mis. Rp/kWh untuk waste-to-energy), dan hasil sosial-ekonomi yang terukur. Inisiatif Danantara Monitor dari masyarakat sipil adalah pagar yang perlu dirangkul, bukan dihindari.
- Penargetan yang tajam. Proyek hilirisasi jangan berhenti di slogan. Capex harus diarahkan ke nilai tambah (refining, bahan antara, komponen) dan ekosistem UMKM (offtaker, logistik, after-market).
- Tata kelola world-class. Kita tidak ingin cerita “1MDB rasa Nusantara.” Nama-nama penasihat kaliber global memang membantu reputasi, tapi akuntabilitas on the ground—audit, disclosure, risk management—yang menentukan.
Penutup
Kalau dulu Bung Karno berteriak, “Ganyang kolonialisme!”, maka nasionalisasi kekayaan versi hari ini adalah “Ganyang kapital liar!”—bukan dengan sitaan, tapi dengan persuasi berlabel patriotisme. Saya memilih optimis: bila Patriot Bonds berhasil menarik dana besar—baik yang resmi maupun yang underground—masuk ke sistem dan didayagunakan untuk hilirisasi serta program kerakyatan, Indonesia di era Prabowo punya peluang riil menjadi negara besar.
Karena pada akhirnya, patriotisme bukan soal murah bunga, melainkan mahal manfaat bagi rakyat.
GASKEUN MR PRESIDEN