TERASJABAR.ID – Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang merasa dirinya paling unggul dan sulit menerima pendapat orang lain?
Bisa jadi, perilaku tersebut merupakan ciri sikap narsis—bahkan tanpa disadari bisa saja ada dalam diri kita sendiri.
Narsis merujuk pada sikap percaya diri yang tinggi. Pada dasarnya, hal ini bukan sesuatu yang negatif selama disertai dengan harga diri yang sehat, empati terhadap orang lain, serta kemampuan untuk belajar dari kesalahan.
Namun, jika sikap tersebut dilakukan secara berlebihan dan menjadi kebiasaan yang merugikan orang sekitar, bisa jadi itu mengarah pada gangguan kepribadian narsistik.
Individu dengan gangguan kepribadian narsistik umumnya memiliki rasa percaya diri yang berlebihan, tetapi minim empati.
Mereka cenderung merasa paling hebat dan ingin terus dikagumi.
Ciri lainnya antara lain bersikap arogan, iri terhadap orang lain, merasa superior tanpa pencapaian yang sepadan, sering membesar-besarkan prestasi, serta menuntut perlakuan istimewa.
Mereka juga gemar berfantasi tentang kesuksesan, kekuasaan, atau pasangan ideal, bersikap manipulatif demi keuntungan pribadi, sulit menerima kritik, dan kerap menghindari tanggung jawab.
Selain itu, suasana hati mudah berubah dan target hidup yang ditetapkan sering kali tidak realistis.
Perilaku narsistik dapat dipengaruhi oleh pola asuh, misalnya orang tua yang terlalu memanjakan atau memuji anak secara berlebihan.
Faktor lingkungan, riwayat keluarga, serta gangguan pada sistem saraf juga berperan.
Sikap narsistik yang tidak ditangani dapat berdampak buruk, termasuk meningkatkan risiko kecanduan alkohol, penyalahgunaan narkoba, gangguan kecemasan, hingga depresi.
Sayangnya, penderitanya sering merasa tidak membutuhkan bantuan.
Oleh karena itu, dukungan orang terdekat sangat penting untuk mendorong konsultasi ke psikolog atau psikiater.
Penanganan umumnya dilakukan melalui psikoterapi, dan bila perlu, dokter dapat memberikan obat untuk mengatasi gangguan kecemasan atau depresi yang menyertai.-***











