Wahai Muhammad, Mataharinya Dunia…
Sinar-Mu tak membedakan kasta maupun noda.
Engkau adalah kompas saat benar dan salah mulai bias,
Saat kesalehan hanya jadi topeng, dan dosa dianggap tuntas.
Zaman ini bukan tentang siapa yang paling suci,
Tapi tentang siapa yang paling merasa butuh pada-Mu, Ya Rabb.
Sebab tanpa syafaat-Mu yang menghangatkan ruhani,
Kami hanyalah pengelana yang tersesat di rimba sepi.
Terangilah hati kami yang mulai membatu,
Agar yang soleh tetap terjaga dari angkuhnya kalbu,
Dan yang salah lekas pulang ke pelukan rindu,
Menuju cahaya-Mu, satu-satunya matahari yang takkan berlalu.
Yaa… Rabb
Dalam Tahajjudku di tengah malam yang sepi ini
Aku yang tak berdaya ini
mengadu kepadaMu
Di zaman di mana penampilan luar seringkali menipu,
kami diingatkan bahwa iman adalah perjalanan, bukan sekadar status.










