TERASJABAR.ID – Mudah marah bisa dipicu oleh berbagai hal, mulai dari persoalan kecil hingga masalah besar.
Marah sebenarnya merupakan emosi yang wajar dan menjadi respons alami tubuh ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam.
Namun, jika kemarahan muncul terlalu sering, berlebihan, atau dipicu oleh hal sepele, kondisi ini patut diwaspadai karena bisa menandakan gangguan pada kesehatan mental.
Saat harapan tidak sejalan dengan kenyataan, seseorang cenderung merasa kecewa dan akhirnya mudah tersulut emosi.
Perasaan sedih atau kehilangan yang tidak tersalurkan dengan baik juga dapat menumpuk dan berubah menjadi amarah.
Selain itu, stres berkepanjangan membuat tubuh berada dalam mode siaga, sehingga emosi lebih sulit dikendalikan.
Kurang tidur turut berperan besar dalam memicu suasana hati yang buruk dan meningkatkan tingkat stres.
Konsumsi alkohol berlebihan pun dapat mengganggu kemampuan berpikir jernih, sehingga seseorang lebih impulsif dan mudah marah.
Dalam beberapa kasus, mudah marah juga menjadi gejala gangguan mental seperti depresi, borderline personality disorder, dan gangguan bipolar.
Bahkan kondisi sederhana seperti lapar dapat memicu emosi negatif akibat turunnya kadar gula darah.
Untuk mengatasi kemarahan, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Latihan pernapasan dalam membantu menenangkan sistem saraf dengan cepat.
Teknik relaksasi seperti meditasi, yoga, atau aromaterapi juga efektif meredakan stres.
Setelah emosi mereda, penting untuk mengenali penyebab kemarahan agar solusi yang tepat bisa ditemukan.
Mengubah pola pikir dan menyesuaikan ekspektasi dengan kenyataan juga dapat membantu mengurangi rasa frustrasi.
Jika kemarahan sulit dikendalikan atau muncul tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater agar mendapat penanganan yang sesuai.-***

















