Ekonom Acuviarta Kartabi, malah memposting di medsosnya yang bertanggung jawab adalah kepala Bapeda. Oleh karena itu harus dipecat.
Tetapi bukan Dedi Mulyadi jika mau mengalah begitu saja. Saat Purbaya nyentil duit Pemprov Jabar, Dia langsung ngegas: bikin konten, dan bilang “enggak ada tuh duit jabar dalam bentuk deposito”
Di sisi lain, Purbaya bilang dia enggak pernah nuduh spesifik soal Jabar dan intinya cuma satu: uang daerah jangan cuma tidur, harusnya turun ke rakyat.
Gubernur Dedi Mulyadi pun kembali ngoten untuk membantah klaim Kementerian Keuangan yang menyebut Jawa Barat menyimpan dana hingga Rp 4,17 triliun dalam bentuk deposito. Menurutnya, dana kas daerah hanya sekitar Rp 3,8 triliun dan berbentuk giro, bukan deposito.
“Dana itu sudah dibelanjakan untuk kebutuhan seperti gaji pegawai, perjalanan dinas, dan pembayaran listrik,” jelasnya.
Ia menambahkan, dana dalam bentuk deposito adalah milik Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), bukan kas pemerintah provinsi. Dedi menilai data Kemenkeu tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Menanggapi bantahan tersebut, Purbaya tetap bersikukuh bahwa data Bank Indonesia adalah sumber paling akurat. Ia menegaskan bahwa angka yang disampaikan sudah diverifikasi oleh bank sentral melalui laporan perbankan yang rutin dikerjakan.
Menurutnya, data yang berasal dari sistem pelaporan bank ke BI memiliki tingkat keandalan tinggi. Karena itu, ia meminta Pemda tidak asal membantah, melainkan melakukan pengecekan ulang agar hasilnya objektif dan transparan.
Menarik karena Purbaya menyebut Jawa Barat sebagai salah satu provinsi dengan dana mengendap terbesar, yakni Rp 4,17 triliun. Data ini bersumber dari Bank Indonesia dan diyakini valid oleh Kementerian Keuangan karena berasal dari laporan rutin perbankan.















