Menkop mengingatkan, peran kolektif koperasi inilah yang menjadi kunci dalam mendukung program MBG. Koperasi produsen susu harus mampu menjadi penyedia susu yang aman, layak konsumsi, terstandar, dan tersertifikasi, dengan sistem distribusi yang tertib dan akuntabel.
“Suplai untuk MBG tidak hanya menuntut ketersediaan produk, tetapi juga kesiapan koperasi dalam tata kelola, pencatatan, ketelusuran, dan manajemen rantai pasok. Di sinilah koperasi diuji untuk naik kelas menjadi mitra strategis program nasional,” papar Menkop.
Direktur Utama LPDB Krisdianto menambahkan, KPBS Pangalengan merupakan mitra LPDB yang masuk kategori baik.
“Mereka juga sudah memiliki mitra offtaker seperti Ultra Jaya dan Frisian Flag, dan beberapa SPPG dalam program MBG,” katanya.
Ke depan, Krisdianto berharap KPBS Pangalengan bisa menjadi suplier utama dari Kopdes Merah Putih, khususnya untuk aneka produk susu. “Koperasi ini pernah mendapat pembiayaan dana bergulir sebesar Rp15 miliar, dan sudah lunas,” ucap Krisdianto.
Sementara itu, Ketua KPBS Aun Gunawan menjelaskan, koperasi yang sudah berdiri sejak 1969 ini, kini sudah beranggotakan lebih dari 4.500 orang, dengan populasi sapi sebanyak 16 ribu, hingga mampu memproduksi susu 80 ton perhari.
Untuk mendukung produksi dan pemasaran susu segar, KPBS Pangalengan mengoperasikan 28 Tempat Pelayanan Koperasi (TPK) yang terintegrasi, yang semuanya dikelola melalui sistem berbasis Enterprise Resource Planning (ERP).
Diantara pusat-pusat ini, 8 diantaranya dilengkapi dengan sistem pendingin susu, yang memungkinkan proses lebih efisien. “Mulai dari pengumpulan susu di tingkat peternakan hingga pengiriman ke industri pengolahan susu,” katanya.
Saat ini, lanjut Aun, KPBS Pangalengan terlibat aktif dalam program MBG dengan memasok susu ke 50 SPPG. “Tapi, susu kita tidak didrop ke SPPG, tapi langsung ke sekolah bersamaan waktu dengan SPPG. Kita siapkan sekitar 700 ribu cup perbulan,” ujarnya.***











