Jejak prestasi ini bukan fenomena sesaat. Pada ajang ASEAN PR Award 2019 di Malaysia, sebuah program komunikasi Danone yang didorong oleh semangat kolaborasi dan keterlibatan masyarakat dalam membersihkan sampah plastik di jalur pendakian gunung berjudul “Sapu Jagat” meraih kategori Best Public Relations Campaign Gold dalam ajang PR Excellent Award tingkat ASEAN. Program ini melibatkan ratusan relawan dalam kegiatan pembersihan lingkungan, menunjukkan bagaimana komunikasi PR dapat berpadu dengan aksi nyata yang berdampak. 
Pengakuan terhadap kemampuan komunikasi juga datang dari dalam negeri. Arif terpilih dalam Top 40 PR Person versi The Iconomics, sebuah penghargaan yang menyoroti praktisi kehumasan yang memberi kontribusi nyata terhadap profesi di Indonesia. Selain itu, prestasi tim yang dipimpinnya dalam ajang seperti Public Relations Indonesia Awards (PRIA), di mana Danone Indonesia berhasil mempersembahkan lima penghargaan sekaligus, menunjukkan bahwa strategi komunikasi yang adaptif dan terintegrasi mampu menjawab tantangan komunikasi modern. 
Melalui perjalanan panjang itu, salah satu pesan yang sering ditunjukkan Arif kepada rekan-rekan profesinya adalah bahwa PR harus terus belajar dan beradaptasi. Era digital membawa perubahan cepat dalam cara publik menerima dan berdialog dengan organisasi. Media sosial, data analytics, dan platform digital lainnya membuka peluang besar untuk membangun cerita yang kuat, namun juga memunculkan tantangan baru seperti misinformasi, isu boikot, dan pergeseran opini publik yang dinamis. Kepekaan terhadap tren teknologi dan pemahaman konteks sosial menjadi keharusan. 
Tidak kalah penting, bagi Arif, adalah membangun jejaring yang kuat lintas pemangku kepentingan — dari komunitas jurnalis, asosiasi profesi, hingga akademisi dan pemimpin masyarakat. Jejaring itu bukan hanya menjadi sumber dukungan ketika krisis datang, tetapi juga sarana belajar bersama dalam mengembangkan praktik komunikasi yang relevan dan bermakna.
Selain kemampuan teknis dan jaringan, Arif kerap menekankan pentingnya reputasi pribadi yang otentik dalam dunia PR. Bagi seorang komunikator, reputasi bukan sekadar gelar atau penghargaan, tetapi refleksi dari konsistensi, integritas, dan tanggung jawab profesional yang dijalankan setiap hari. Melalui cara ini, ia memupuk tim yang bukan hanya unggul dalam keterampilan, tetapi juga tangguh dalam menghadapi tantangan profesi yang semakin kompleks.
Kisahnya menunjukkan bahwa PR hari ini bukan sekadar menjawab kebutuhan organisasi, tetapi juga menyumbangkan pemahaman dan narasi yang konstruktif bagi masyarakat. Dengan menyatukan pendekatan strategis, kemampuan teknologi, dan wawasan multi perspektif, Arif memberi contoh bagaimana fungsi komunikasi tetap relevan dan signifikan di masa mendatang.***














