Sebelum pergi ke tempat pengungsian, Sugianto melihat api sudah mendekat ke kampung tempat dia tinggal. Dia pun melihat sejumlah orang lansia yang tergolong gopoh menyelamat diri. Sugianto pun memapah orang orang itu. Satu di antaranya yang kesulitan berjalan dia gendong.
Sesampainya di pengungsian, kepala menghitung jumlah warganya ternyata kurang satu orang. Sugianto tak tinggal diam, dia berlari melewati perbukitan menuju sebuah rumah yang dihuni seorang lansia. Ketika sampai di sebuah rumah, Sugianto mendapati seorang lansia duduk di tepi tempat tidur. Sugianto pun menyuruh mengungsi. “Ada apa, “tanya sang nenek ” Kebakaran, “jawab Sugianto sambil langsung menggendong nenek yang sudah tidak bisa berjalan.
Sejauh 300 meter sambil menuruni bukit Sugianto nenek sampai ke tempat penampungan bersama para pengungsi lain. Total Sugianto menyelamatkan tujuh lansia. Tak ada korban jiwa di desa itu, meski sejumlah rumah terbakar.
Sugianto merupakan satu-satunya Warga Negara Indonesia (WNI) yang diberi penghargaan di tengah-tengah warga Korea Selatan lainnya.
Selain penghargaan, pemerintah Korea Selatan juga mempertimbangkan pemberian visa jangka panjang (F-2) kepada Sugianto – yang dijuluki pahlawan tersembunyi – dan keluarganya sebagai wujud apresiasi lanjutan. Sementara itu Indonesia menjadikannya duta Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Suguanto bersyukur bisa menolong bahkan mendapat kesempatan bertemu dengan presiden Korsel. ***

















