TERASJABAR.ID – Hipertensi jas putih adalah kondisi di mana tekanan darah seseorang meningkat saat diperiksa oleh dokter, tetapi kembali normal ketika berada di luar rumah sakit atau setelah pemeriksaan selesai.
Kondisi ini pertama kali diperkenalkan pada 1983 oleh profesor penyakit dalam Giuseppe Mancia dan dikenal dengan istilah white coat hypertension.
Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jas putih jika tekanan darahnya mencapai lebih dari 140/90 mmHg saat berada di fasilitas kesehatan, tetapi turun menjadi kurang dari 130/80 mmHg di luar rumah sakit tanpa penggunaan obat-obatan.
Penyebab utama kondisi ini adalah stres dan kecemasan yang muncul saat pemeriksaan kesehatan, memicu respons “fight or flight” yang meningkatkan detak jantung dan tekanan darah.
Faktor risiko lain termasuk usia di atas 50 tahun, jenis kelamin wanita, dan obesitas.
Hipertensi jas putih diduga meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti penyakit kardiovaskular, hipertrofi ventrikel kiri, diabetes, dan hipertensi menetap, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kaitannya.
Penanganan dimulai dengan memastikan kondisi melalui pemantauan tekanan darah di rumah menggunakan tensimeter otomatis.
Jika terbukti hipertensi jas putih, dokter biasanya menyarankan perubahan gaya hidup, seperti olahraga rutin, menjaga berat badan ideal, membatasi konsumsi garam, dan berhenti merokok.
Pada pasien dengan faktor risiko kardiovaskular tambahan, obat antihipertensi dapat diresepkan apabila perubahan gaya hidup tidak cukup efektif.
Konsultasi dan komunikasi yang baik dengan dokter sangat penting agar pasien merasa lebih nyaman selama pemeriksaan, sekaligus membantu pengelolaan tekanan darah agar tetap stabil dan mencegah komplikasi jangka panjang.-***














