TERASJABAR.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyoroti fenomena scroll society atau kebiasaan terus menggulir informasi tanpa sempat memahami secara utuh makna di dalamnya, yang tengah terjadi pada generasi muda di Indonesia.
Dalam ceramah ilmiah bertajuk “Pembelajaran Mendalam Menuju Generasi Berkualitas Era 5.0” di Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Mendikdasmen menegaskan sistem pendidikan nasional harus segera bertranformasi dari hanya “permukaan” menuju pemahaman yang mendalam melalui strategi Pembelajaran Mendalam (deep learning).
Dilansir siaran pers Kemendikdasmen, Abdul Mu’ti menggarisbawahi adanya ketimpangan budaya (cultural lag), di mana kecanggihan teknologi tidak dibarengi dengan kedewasaan perilaku digital.
“Masyarakat saat ini mahir mengusap layar namun tidak mencerna makna, yang berujung pada rendahnya Digital Civility Index,” katanya.
Ketergantungan pada konten instan dinilai menimbulkan ancaman bagi generasi muda yaitu proses berpikir yang lambat akibat terbiasa dengan informasi singkat tanpa analisis, lamban dalam eksekusi dan kehilangan inisiatif di dunia nyata.
Serta menjadi generasi yang lemah atau mudah menyerah, dan memilih mengadu di media sosial daripada mencari solusi konkret.
Deep Learning
Kemendikdasmen mendorong penerapan pendekatan Pembelajaran Mendalam dalam agenda pembelajaran.
Pendekatan ini menekankan kedalaman pemahaman peserta didik terhadap materi yang dipelajari melalui tiga prinsip, yaitu mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna) dan joyful (menggembirakan).
















