Ia menambahkan bahwa Program MBG juga mendorong perputaran ekonomi lokal melalui pemanfaatan bahan pangan dari petani, nelayan, dan pelaku UMKM setempat.
Untuk memastikan dampak tersebut benar-benar dirasakan di lapangan, pengawalan mutu MBG dijalankan secara disiplin melalui kerja harian di dapur SPPG, mulai dari pemilihan bahan pangan, proses pengolahan, hingga pendistribusian ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
Pengawalan mutu tersebut dijalankan oleh para pekerja lapangan di SPPG UMSU. Tegardo, pengawas pemeliharaan dan pengantaran SPPG UMSU, menjelaskan bahwa seluruh proses pengolahan makanan dilakukan dengan standar operasional yang ketat.
“Setiap hari kami bekerja dengan Prosedur Operasional Standar yang jelas. Semua petugas menggunakan alat pelindung diri, bahan pangan ditimbang dan dibersihkan, lalu diolah sesuai jadwal. Makanan dimasak dini hari, didinginkan, dikemas, dan didistribusikan pagi hari agar anak-anak bisa sarapan sebelum belajar. Ini adalah tanggung jawab untuk memastikan makanan yang diterima aman dan bergizi,” ujarnya.
Kerja nyata di lapangan tersebut menjadi cerminan bahwa Program Makan Bergizi Gratis dijalankan secara menyeluruh mulai dari kebijakan nasional hingga implementasi teknis di daerah.
Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk terus mengawal mutu MBG melalui penguatan standar layanan SPPG, pengawasan berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor bersama Badan Gizi Nasional, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Dengan pengawalan mutu yang konsisten, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya menjangkau lebih luas, tetapi juga memberi dampak nyata bagi tumbuh kembang peserta didik, peningkatan kualitas pembelajaran, serta pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.***

















