Oleh karena itu, ia mendorong adanya pelatihan di level Pendidikan anak usia dini (PAUD) melalui alat permainan edukatif (APE) yang selaras dengan ajaran dasar bahwa keselamatan adalah sesuatu yang mendasar.
“Sehingga ke depannya mulai dari pelatihan-pelatihan di level PAUD bisa kita sinergikan mainan-mainan dengan minimal pemahaman bahwa keselamatan itu menjadi sesuatu yang mendasar,” tambahnya.
Menanggapi pernyataan tersebut, Mendikdasmen mengatakan bahwa program kementerian memiliki kesamaan visi dengan Basarnas.
Fokus utama Kemendikdasmen adalah mendidik anak-anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya di berbagai bidang, tidak terkecuali kemampuan Search and Rescue (SAR) yang sangat diperlukan untuk disinkronkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
“Kemampuan ini juga bisa disinkronkan dengan program Pramuka yang sekarang menjadi ekstrakurikuler wajib di semua sekolah. Sangat penting bagi anak-anak kita untuk memiliki keahlian menyelamatkan diri, baik saat terjadi banjir, kebakaran, maupun musibah lainnya. Paling tidak, mereka memahami dasar-dasarnya,” ujarnya.
Mendikdasmen berharap agar pertemuan ini menjadi awal untuk bersinergi menyelamatkan masyarakat yang memerlukan pertolongan.
Kerja sama ini juga menjadi upaya dalam mengembangkan kemampuan anak-anak Indonesia agar dapat menjadi tim relawan Basarnas yang tangguh di masa depan.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menambahkan bahwa kementerian memiliki satuan pendidikan aman bencana (SPAB) yang bisa diselaraskan dengan Basarnas.
“Di kementerian, kita mempunyai Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Jadi, nanti program ini juga bisa kita bisa selaraskan,” ungkapnya.***
















