TERASJABAR.ID – Keberadaan halte Trans Metro Bandung (TMB) di Jalan Raya Cinunuk, Kec. Cileunyi, Kab. Bandung kembali jadi soratan dan dipertanyakan sejumlah pengguna jalan dan warga Cileunyi. Bagaimana tidak, halte TMB yang sudah tak berfungsi ini, selain kian kumuh, kini mengundang kerawanan kecelakaan lalu lintas.
Berdasarkan pentauan, Senin (19/1/2026), halte yang dibangun di atas trotoar dan di atas drainase pinggir sungai ini, kaca-kacanya yang sudah hancur. Di dalamnya jadi tempat pembuangan sampah dan sebagian bangunan dihiasi coretan vandalisme.
Selain itu, drainase di bawah halte penuh tumpukan sampah. Sementara puluhan karung berisi lumpur dan sampah pascapembersihan drainase dibiarkan tak diangkut. Termasuk pohon beringin yang rimbun di belakang halte menambah “angkernya” kondisi lingkungan sekitar.
Bahkan keberadaan halte di depan Kantor Desa, Puskesmas, SDN Cinunuk dan di belokan gerbang Permata Biru ini sangat membahayakan pejalan kaki, terutama anak-anak sekolah.
Mereka yang mau naik atau turun dari angkutan umum jika akan ke komplek Permata Biru atau sebaliknya jika berjalan kaki harus berhadapan dengan kendaraan yang meluncur dari arah Cileunyi menuju Cibiru dengan kecepatan tinggi.
Meski telah dibangun jembatan bagi pejalan kaki di belokan gerbang Permata Biru, ini bisa dibilang sia-sia. Pasalnya, terhalang halte TMB yang akhirnya pejalan kaki harus menyusuri jalan raya.
Keberadaan halte bus TMB yang kian kumuh dan mengundang kerawanan kecelakaan ini, sudah lama dikeluhkan banyak pihak. Mereka di antaranya telah mengadu ke desa dan Badan Permusyawatan Desa (BPD) Cinunuk.
Pihak kepala desa dan BPD Cinunuk pun meresponnya dengan mengirim surat ke dinas terkait di Pemkab Bandung seraya meminta halte TMB tersebut dibongkar. Namun permintaan pembongkaran halte TMB yang diketahui Camat Cileunyi ke dinas terkait, hingga saat ini tak jelas. Malah halte TMB kini kian kumuh.
“Jujur, saya prihatin melihat halte TMB yang kini kian kumuh dan mengundang kerawanan kecelakaan bagi pejalan kaki ini,” kata Rudi Wahyudi, Ketua RW 27 Komplek Permata Biru, Senin (19/1/2026).
Dinas terkait, kata Rudi, harus segera turun tangan untuk melihat kondisi sekitar halte, sekaligus untuk membongkarnya demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat. “Jika ada izin, warga pun siap membongkarnya,” tandas Rudi.
Sementara itu, Kades Cinunuk, Edi Juarsa dan Ketua BPD Cinunuk membenarkan kondisi halte TMB yang kumuh tersebut dan telah ada masyarakat yang mengadu. “Beberapa waktu lalu kita pernah mengirim surat ke dinas terkait di Pemkab Bandung agar halte TMB di bongkar. Namun sayang tak ada tindak lanjut,” ujar Setiawan.
Ia akan kembali mengambil langkah dengan mengirim surat kembali ke dinas terkait di Pemkab Bandung agar halte TMB dibongkar. “Jika sudah ada persetujuan dari dinas terkait, pihak desa siap membongkar halte TMB tersebut, sekaligus menatanya demi kenyamanan dan keamanan masyarakat,” kata Setiawan.*










