TERASJABAR.ID – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menilai keberhasilan pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya bergantung pada kekuatan metodologi statistik, tetapi sangat ditentukan oleh strategi komunikasi publik yang berlapis, membumi, dan tidak bersifat elitis.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi X DPR RI bersama Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipimpin Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, di Kompleks DPR RI.
Hetifah menekankan bahwa persiapan Sensus Ekonomi 2026 masih perlu diperkuat, khususnya dalam membangun kepercayaan dan partisipasi masyarakat agar tidak muncul sikap apatis.
“Sensus Ekonomi 2026 harus melibatkan seluruh masyarakat. Strateginya tidak boleh elitis, tetapi tetap realistis mengingat keterbatasan anggaran. Kuncinya ada pada kepercayaan publik,” ujar Hetifah, sebagaimana ditulis Parlementaria pada Rabu (28/1/2026).
Ia mendorong BPS mengembangkan pola komunikasi yang dekat dengan keseharian warga, terutama pelaku UMKM dan sektor informal.
Pemanfaatan tokoh lokal seperti RT/RW, karang taruna, komunitas pasar, hingga media yang akrab di masyarakat seperti grup WhatsApp, radio komunitas, dan media lokal dinilai efektif.
Bahkan, pembentukan posko sensus di tingkat desa dianggap dapat memperluas jangkauan partisipasi.
Hetifah juga menyoroti pentingnya fase pasca-sensus, yakni transparansi hasil dan penyajian data yang mudah dipahami publik untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan komitmen BPS untuk menjalankan sensus secara inklusif, memperkuat kolaborasi dengan tokoh lokal, serta merumuskan strategi komunikasi yang lebih tepat sasaran bersama Komisi X.-***












