Sebagian orang mungkin bertanya: bagaimana Abah tahu uang diambil anaknya? Bagi kiai, kepekaan batin bukanlah hal aneh. Ia bukan sihir, bukan sensasi. Ia buah dari laku panjang, tirakat, dan kebersihan niat. Saya sendiri yang bukan kiai dan tidak bersih hati pernah mengalami beberapa kali ketika seorang tamu yang sebelumnya kenal dengan saya, lalu tamu itu mau ke rumah, dia “hadir” lebih dulu di batin sebelum benar-benar datang secara fisik. Tentu ini bukan untuk diagung agungkan.
Masih dengan kisah yang mirip. Suatu saat di bulan Ramadan, saya tidak tarawih karena harus menyelesaikan tugas. Lampu kamar saya redupkan, saya mengetik pelan. Tiba-tiba Abah yang sedang sakit dan tidak tarawih serta tidak pernah masuk kamar kami dituntun Cak Karim ke kamar saya. Beliau hanya membuka pintu, melihat, lalu keluar tanpa sepatah kata. Seakan ingin berkata tanpa kata: aku tahu engkau di sini kenapa tidak tarawih.
Kini kita beralih ke sosok lain, Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Seorang Kapolri yang namanya identik dengan kejujuran. Sampai Gus Dur pernah berkelakar tajam: “Hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia: patung polisi, polisi tidur, dan Hoegeng.” Satire yang lucu sekaligus menyayat. Hoegeng dikenal menolak fasilitas berlebihan, hidup sederhana, dan tak mau menukar integritas dengan kenyamanan.
Ada kisah yang dituturkan oleh Rocky Gerung tentang bagaimana Hoegeng begitu hati-hati menjaga jarak antara jabatan & kepentingan pribadi, bahkan dalam urusan keluarga.
Saat istri Hoegeng (eyang Mery baru meninggal 3 Pebruari lalu dalam usia 100 tahun) mau ke ortunya yang tinggal di Belanda, oleh Hoegeng dilarang. Khawatir pandangan masyarakat bahwa hal itu atas biaya karena jabatan sebagai kapolri. Istrinya ketika itu berkata biayanya dari transferan ayahnya di Belanda. Hoegeng kekeuh bersikeras: persepsi publik lebih penting daripada pembenaran pribadi.
Dari Abah Sholeh hingga Hoegeng, terlihat satu benang merah: Kejujuran yang tidak gaduh. Ia tenang, tapi tegas. Ia diam, tapi berdampak. Yang satu menjaga amanah pesantren. Yang satu menjaga amanah negara.
Keduanya mengajarkan bahwa integritas bukan soal besar kecilnya jabatan dan materi, melainkan seberapa bersih ketika memegang titipan. Dan mungkin di situlah letak kemuliaannya: Bukan pada siapa yang datang kepada kita, melainkan pada apa yang tidak kita ambil dari mereka.(Ainur Rofiq Al-Amin)















