Nezar menegaskan bahwa kolaborasi dengan BPJS Kesehatan dapat langsung dijalankan dengan memadukan data, use case, dan talenta yang sudah tersedia.
“Kalau BPJS Kesehatan punya use case dan data, kami punya talenta dan ekosistem. Ini bisa langsung kita kerjakan bersama. Tujuannya jelas, layanan ke masyarakat harus lebih cepat, lebih akurat,” tegasnya.
Sebelumnya, Direktur Teknologi Informasi BPJS Kesehatan Setiaji menyampaikan telah mulai mengembangkan berbagai use case AI, namun masih menghadapi keterbatasan kapasitas pengembangan.
“Kami sudah mulai bangun chatbot, analisis klaim, dan smart analytics. Tapi memang masih ada gap, terutama dalam pengembangan model dan pemanfaatan data,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sistem yang ada saat ini masih belum mampu memahami kebutuhan pengguna secara utuh.
“Chatbot kami masih sebatas pengganti FAQ. Untuk klaim juga belum bisa membaca banyak variabel. Ini yang ingin kami tingkatkan agar layanan bisa lebih cepat dan akurat,” jelas Setiaji.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah menargetkan layanan BPJS Kesehatan menjadi lebih responsif, proses klaim lebih cepat, serta pemanfaatan data kesehatan lebih optimal untuk mendukung kebijakan berbasis bukti.
Selain itu, kolaborasi ini juga diharapkan mendorong peningkatan kapasitas internal melalui transfer pengetahuan dan pengembangan talenta di dalam organisasi.***
Sumber: Kemkomdigi
















