Di tingkat pedagang, daging sapi dijual Rp130.000–Rp140.000 per kilogram, sementara tipe has Rp150.000 per kilogram atau sekitar 7 persen di atas HAP.
Struktur harga menunjukkan pedagang tingkat pertama menjual pada kisaran Rp130.000–Rp140.000 per kilogram, sedangkan harga Rp150.000 terjadi pada pedagang tingkat kedua, mencerminkan dinamika margin di hilir.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menegaskan kenaikan tidak berasal dari hulu. “Harga karkas di RPH Rp105.000-Rp107.000 per kilogram masih dalam koridor acuan, sehingga kenaikan di pasar lebih pada margin di tingkat pedagang,” ujarnya.
Ia menambahkan, harga ayam hidup di kandang masih sesuai acuan. “Jadi yang perlu dijaga adalah stabilitas distribusi dan margin di hilir agar tetap wajar,” ujarnya.
Harga daging ayam di Bandung tercatat Rp42.000 per kilogram atau sekitar 5 persen di atas HAP Rp40.000 per kilogram. Ayam hidup Rp22.500-Rp23.000 per kilogram dan telur Rp29.500 per kilogram, masih di bawah HAP.
Sekretaris Jenderal Pinsar, Mukhlis Wahyudi, serta Ketua Asosiasi Bandar Daging Jawa Barat (Apresiasi Nusantara), Baehaqi, menegaskan komitmen pelaku usaha menjaga harga sesuai acuan dan memastikan distribusi berjalan lancar sehingga tidak ada alasan harga daging melebihi Rp140.000 per kilogram.
Di Yogyakarta, sidak Minggu (22/2/2026) di Pasar Beringharjo, Kranggan, Terban, dan Colombo menunjukkan harga daging sapi Rp125.000-Rp135.000 per kilogram, dengan harga karkas di RPH Giwangan Rp95.000–Rp100.000 per kilogram dan di RPH Segoroyoso Bantul Rp95.000 per kilogram.
Harga daging ayam Rp38.000–Rp40.000 per kilogram dan telur Rp30.000–Rp31.000 per kilogram. Untuk ayam layer di Pasar Terban, harga hidup di kandang Rp23.000 per kilogram dan Rp26.000 per kilogram di pedagang, menunjukkan segmentasi pasar berjalan normal tanpa lonjakan signifikan.
















