Melihat potensi tersebut, Kemenperin melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) terus mengakselerasi transformasi digital IKM, salah satunya melalui penyelenggaraan Workshop e-Smart IKM dan Literasi Digital.
Kegiatan ini dilaksanakan pada 1 April 2026 di Balai Pengembangan Industri Fesyen dan Kriya (BPFIK), Kabupaten Badung, Bali, yang diikuti oleh 80 pelaku IKM setempat.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Ditjen IKMA Kemenperin dengan berbagai mitra strategis, antara lain Shopee, IKEA Indonesia, serta Universitas Ciputra Surabaya.
“Pemasaran digital merupakan suatu keharusan bagi pelaku usaha, khususnya IKM, karena memiliki keunggulan dibandingkan pemasaran konvensional,” ujarnya.
Reni menjelaskan bahwa perkembangan teknologi juga membuka peluang pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam strategi pemasaran.
“AI memungkinkan pelaku usaha melakukan personalisasi promosi sesuai preferensi konsumen, memprediksi tren pasar, serta menganalisis perilaku pelanggan dengan lebih akurat, sehingga efektivitas pemasaran dapat meningkat secara signifikan,” imbuhnya.
Kemenperin juga terus mengembangkan program e-Smart IKM yang telah berjalan sejak 2017. Hingga saat ini, sebanyak 31.634 pelaku IKM telah mengikuti program tersebut melalui berbagai kegiatan literasi digital.
“Selain mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam pemasaran, Kemenperin juga mengarahkan IKM untuk melakukan transformasi menuju Industri 4.0 pada lini produksinya,” tambah Reni.
















