“Peran kami adalah memastikan kolaborasi yang sudah kuat ini dapat dipecepat melalui dukungan kebijakan dan program, sehingga hasil riset dapat segera diimplementasikan dan memberi dampak luas,” ujarnya.
Dari sisi perguruan tinggi, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara menyampaikan bahwa kolaborasi Indonesia–Jepang berangkat dari kolaborasi akademik jangka panjang yang kini diperkuat melalui kerja sama riset berkelanjutan.
“Energi ramah lingkungan adalah arah pengembangan energi global, dan kolaborasi lintas negara, industri, perguruan tinggi, serta pemerintah menjadi kunci agar riset memberi manfaat nyata bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Ia juga mencontohkan pengembangan pabrik katalis biofuel bersama Pertamina sebagai wujud riset yang diarahkan pada implementasi dan kebutuhan energi masa depan.
Direktur Eksekutif NEDO Kikuo Kishimoto menilai pertemuan ini produktif dan menegaskan komitmen Jepang untuk berbagi pengetahuan teknologi guna mendukung pembangunan Indonesia, sekaligus membangun kolaborasi dua arah yang berkelanjutan dan berdampak positif bagi kedua negara.
“Kami ingin membangun kolaborasi yang tidak hanya berbagi teknologi, tetapi juga tumbuh bersama untuk menghadapi tantangan masa depan,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia Bob Azam menilai diskusi ini membuka peluang kerja sama konkret antara industri, perguruan tinggi, dan pemerintah.
Toyota melihat potensi besar Indonesia dalam pengembangan energi baru dan berharap kolaborasi ini segera diwujudkan dalam program nyata.
“Kerja sama ini penting untuk mendorong riset yang aplikatif sekaligus memperkuat daya saing industri nasional,” jelasnya.














