“Jika terapinya tepat, pemborosan biaya pengobatan bisa dihindari. Keuangan negara di sektor kesehatan akan menjadi jauh lebih efektif,” katanya.
Namun demikian, Febrian mengingatkan bahwa proyek ini adalah “lari maraton” yang membutuhkan konsistensi dan komitmen jangka panjang, bukan hasil instan.
Dukungan serupa datang dari Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan. Ia mendorong agar inisiatif genomik ini tidak berhenti pada urusan medis, tetapi diperluas untuk mengelola keanekaragaman hayati Indonesia secara luas.
Optimasi sumber daya genetik nasional, menurut Luhut, adalah kunci tidak hanya pada ketahanan kesehatan, namun juga ketahanan pangan serta ekonomi nasional di masa depan. “Potensi sumber daya genetik kita harus dikelola secara optimal,” tegasnya.
Saat ini, implementasi BGSI telah didukung oleh 10 rumah sakit yang berfungsi sebagai hubs (pusat jejaring). Kedepan, integrasi data genomik ini diharapkan menjadi pilar utama sistem kesehatan nasional yang lebih tangguh dan mandiri.***
















