Dadang Sarif, S.Pd.I., M.Pd., Gr, Pedakwah Asal Cileunyi
TARASJABAR.ID– Ramadan, bulan ketika langit tidak sekadar tinggi, tetapi terasa dekat dengan kita. Begitu dekat hingga desah doa seorang hamba terdengar sebelum air matanya jatuh membasahi bumi.
Demikian diungkapkan Dadang Sarif, S.Pd.I., M.Pd., Gr, pedakwah Asal Cileunyi, Kabupaten Bandung ketika ditanya makna bulan Suci Ramadan, Kamis (26/2/2026).
Menurut Dadang, pedakwah/mubaligh yang juga guru PPPK paruh waktu SMAN 20 Bandung ini,
Ramadan, bulan ketika pintu langit terbuka.
“Ramadan bukan sekadar bulan lapar dan dahaga. Ia adalah musim doa.
Musim ketika setiap helaan napas berpotensi menjadi tasbih, dan setiap detik bisa menjelma jejak yang terukir di langit,” ujar dosen STAI Al Ma’arif Ciamis ini
Dadang pun,
Surah Surah Al-Baqarah ayat 186: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku…”
Jika memperhatikan ayat ini hadir di tengah-tengah ayat tentang puasa, kata Dadang, seakan Allah ingin berbisik:
“Wahai orang yang berpuasa… jangan hanya menahan lapar. Angkatlah tanganmu. Mintalah.”
Sambung Dadang Ramadan pun adalah bulan ketika langit tidak membisu.
“Ia mencatat. Ia menyimpan. Ia menyaksikan”,tutur Dadang yang juga Bendahara Umum pembangunan Masjid Besar (Mabes) Cileunyi ini.
Dikatakan Dadang,
Setiap doa adalah jejak, tidak terdengar oleh manusia, tidak terlihat oleh mata, namun menembus tujuh lapis langit. “Rasulullah bersabda, “Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang tua kepada anaknya, doa orang yang berpuasa ketika ia berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” (HR. Tirmidzi), ungkap Dadang.
Diungkapkan Dadang, bayangkan, di detik-detik menjelang adzan Maghrib, ketika tenggorokan kering dan tubuh lemah, Allah justru membuka pintu langit selebar-lebarnya.
“”Barangkali kita merasa doa kita kecil. Namun di sisi Allah, ia adalah cahaya.
Barangkali kita merasa suara kita lirih. Namun di sisi Allah, ia mengguncang ‘Arsy,”ujarnya.
Ramadhan pun, disebutkan Dadang, mengajarkan kita satu rahasia: “Bahwa doa paling indah bukan yang paling fasih, tetapi yang paling jujur”.
Dijelaskan Dadang, doa terbaik adalah doa yang lahir dari penyesalan, doa yang basah oleh taubat dan doa yang gemetar di sepertiga malam.
“Allah berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan bagimu.” (QS. Ghafir: 60),”katanya.
Namun sering kali yang menghalangi bukanlah langit yang tertutup, melainkan hati yang belum sepenuhnya tunduk. “Ramadan datang untuk melunakkan itu. Menjadikan hati yang keras kembali retak, agar cahaya bisa masuk,”terangnya.
Di antara jejak doa paling indah adalah yang terukir di sepertiga malam.
Rasulullah bersabda:“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim),”sambungnya.
“Bayangkan, Allah memanggil, namun sering kali kita terlelap. Ramadhan adalah kesempatan. Kesempatan untuk bangun bukan hanya dari tidur, tetapi bangun dari lalai,”tutur Dadang.
Dadang mengakatakan, mungkin satu sujud di malam Ramadan lebih berat timbangannya daripada bertahun-tahun ibadah tanpa hati.
“Doa bukan hanya kata-kata. Ia adalah janji kesungguhan. Ia adalah komitmen perubahan. Bagaimana mungkin kita memohon ampun, namun enggan meninggalkan dosa?
Bagaimana mungkin kita meminta cahaya, namun masih nyaman dalam gelap?,”ungkapnya.
Dadang menyebut, jejak doa di langit Ramadan akan bersinar terang jika di bumi kita menapaki jalan taat.
Ramadhan akan pergi. Sebagaimana tamu agung yang pamit tanpa bisa ditahan.
“Pertanyaannya, apa yang tertinggal di langit setelah ia pergi?. Apakah ada jejak doamu?
Apakah ada namamu disebuth dalam munajat malam?. Apakah ada air mata yang menjadi saksi taubatmu?, katanya.
Jika hari ini kita masih diberi kesempatan, sambung Dadang, maka jangan biarkan Ramadan berlalu tanpa jejak.
Angkat tanganmu, basahi pipimu, panggil nama-Nya dengan sepenuh jiwa.
Karena bisa jadi, satu doa yang tulus di Ramadhan ini menjadi sebab Allah mengubah seluruh takdir hidup kita.
“Wallahu alam, semoga Allah SWT selalu mengabulkan kita dalam setiap jeritan doa yang kita panjatkan,
Amin YRA,”pungkas Dadang.
















