TErASJABAR.ID – Perasaan jatuh cinta ternyata tidak hanya dipengaruhi oleh emosi semata.
Di balik ketertarikan antarmanusia, terdapat peran feromon, yaitu senyawa kimia alami yang diproduksi tubuh dan dapat meningkatkan daya tarik seksual.
Feromon bekerja melalui indra penciuman, lalu diproses oleh otak sehingga memengaruhi respons emosional dan ingatan seseorang.
Pada manusia, feromon diduga terkandung dalam keringat dan berbagai cairan tubuh lainnya, seperti urine, air mani, ASI, dan cairan vagina.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa aroma keringat seseorang dapat memengaruhi emosi, suasana hati, serta perilaku orang lain yang menghirupnya, meskipun efek ini sering kali tidak disadari.
Feromon terbagi ke dalam beberapa jenis. Releaser pheromones memicu respons cepat yang berkaitan dengan ketertarikan seksual.
Primer pheromones berpengaruh terhadap sistem hormon, terutama selama kehamilan dan siklus menstruasi.
Signaler pheromones membantu proses pengenalan, seperti ibu mengenali bayinya melalui aroma tubuh.
Sementara itu, modulator pheromones dapat memengaruhi emosi dan suasana hati orang lain.
Pada dunia hewan, feromon berperan penting dalam berbagai perilaku, termasuk menarik pasangan.
Pada manusia, pengaruhnya lebih kompleks dan bergantung pada karakter individu.
Para ahli menilai aroma alami tubuh dapat meningkatkan ketertarikan dan gairah seksual, terutama ketika dua orang sering berinteraksi dalam jangka waktu tertentu.
Penelitian juga menunjukkan feromon pria dapat memengaruhi hormon wanita, termasuk kadar estrogen dan suasana hati, khususnya menjelang masa ovulasi.
Meski demikian, peran feromon dalam jatuh cinta masih terus diteliti, karena ketertarikan juga dipengaruhi faktor lain seperti kepribadian dan penampilan fisik.-***











