Sementara, khusus inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) atau kerap disebut sebagai inflasi pangan, belum pernah melampaui limit kewajaran tingkat inflasi di momen Ramadan dan Idulfitri.
Dalam 5 tahun terakhir, inflasi pangan secara bulanan (month to month) selama Ramadan dan Idulfitri senantiasa berada kurang dari 3 persen.
Hanya inflasi pangan di Ramadan dan Idulfitri tahun 2022 yang sempat agak berfluktuasi. Kala itu Ramadan dimulai pada awal April 2022. Inflasi pangan berada di 2,30 persen dan pada Mei 2022 kembali ada inflasi di 0,94 persen.
Sementara di tahun 2023, inflasi pangan selama Ramadan dan Idulfitri kompak berada di level 0,29 persen, tepatnya pada Maret dan April 2023.
Di tahun 2024, polanya mulai berubah. Ramadan yang dimulai pada tengah Maret 2024 menorehkan inflasi pangan di 2,16 persen. Namun pada bulan berikutnya terjadi deflasi 0,31 persen pada April 2024.
Di tahun 2025, Ramadan yang dimulai pada awal Maret 2025 mencatatkan inflasi pangan di level 1,96 persen. Bulan berikutnya yakni pada April 2025 justru terjadi deflasi di level yang tipis 0,04 persen.
Sementara, untuk kondisi menjelang Ramadan dan Idulfitri tahun 2026 saat ini, inflasi pangan yang terakhir tercatat di level 2,74 persen pada Desember 2025.
Untuk itu, pemerintah akan mengimplementasi dua jurus yakni menggencarkan berbagai program intervensi pangan dan memperketat pengawasan harga guna menekan tingkat inflasi ke depannya.

















