Menurutnya, dunia sedang memasuki fase baru persaingan global yang bukan lagi sekadar perebutan sumber daya alam, tetapi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.
“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” katanya.
Wamenkomdigi menjelaskan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar berupa bonus demografi dan kekayaan mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global.
Namun, ia mengingatkan bahwa keunggulan itu tidak akan berarti tanpa kualitas sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.
Karena itu, ia meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics atau STEM serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.
“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya.
Wamenkomdigi juga mengajak organisasi kepemudaan dan pelajar mengambil peran dalam membangun kemandirian teknologi nasional dan menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat, kritis, dan produktif bagi masa depan bangsa.***
Sumber: Siaran Pers Kemkomdigi

















