Sementara itu, tren depresiasi juga terjadi pada pergerakan inflasi pangan bulanan. Inflasi pangan bulanan yang pada Desember 2025 berada di level 2,74 persen, kemudian menurun dan menjadi deflasi 1,96 persen di Januari 2026.
Untuk inflasi umum nasional, BPS mencatat inflasi tahunan sebesar 3,55 persen, sedangkan secara bulanan terjadi deflasi 0,15 persen.
Penurunan inflasi ini juga terjadi di sejumlah wilayah yang sebelumnya terdampak bencana hidrometeorologi, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Pada Desember 2025 di tiga wilayah tersebut terjadi inflasi yang cukup tinggi. Namun di Januari 2026 mulai stabil yang dipengaruhi oleh terjadinya penurunan harga pangan.
“Kelompok makanan, minuman, dan sembako menjadi penyumbang deflasi terbesar pada ketiga provinsi tersebut, seperti Aceh yang utamanya didorong oleh penurunan (harga) telur ayam dan cabai merah, sedangkan di Sumatera Utara dan Sumatera Barat utamanya didorong oleh penurunan harga cabai merah,” jelasnya.
Intervensi Pangan
Dilansir siaran pers Badan Pangan Nasional (Bapanas), tren inflasi yang mulai melandai saat memasuki momentum Ramadan tahun ini menjadi bukti efektifnya program intervensi pangan yang dilaksanakan pemerintah.
Untuk itu, Bapanas akan terus memperkuat dan mengintensifkan program intervensi pangan yang dijalankan secara konsisten guna memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat.
Melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), akses masyarakat terhadap pangan pokok strategis dengan harga terjangkau terus diperluas.

















