Di sisi perdagangan luar negeri, industri pengolahan nonmigas membukukan nilai ekspor sebesar 227,1 miliar dolar AS atau 80,27 persen dari total ekspor nasional, dengan surplus neraca perdagangan mencapai 38,91 miliar dolar AS.
“Dengan meningkatnya permintaan kebutuhan rumah tangga pada periode Ramadhan dan menjelang Idul Fitri ini, saya dapat mengatakan bahwa Ramadhan selalu membawa berkah tersendiri bagi industri nasional,” ujarnya.
Dalam menghadapi lonjakan permintaan tersebut, Kemenperin memastikan sektor industri, khususnya produsen barang kebutuhan pokok, berada dalam kondisi siap.
Industri makanan dan minuman sepanjang 2025 mampu tumbuh sebesar 6,38 persen, didukung oleh permintaan domestik dan ekspor.
Subsektor ini juga memberikan kontribusi signifikan, yakni 41,26 persen terhadap industri pengolahan nonmigas dan 7,13 persen terhadap perekonomian nasional.
Sementara itu, industri tekstil dan pakaian jadi juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 3,55 persen pada 2025, dengan kontribusi 5,59 persen terhadap industri pengolahan nonmigas.
Kondisi ini mencerminkan industri dalam negeri memiliki daya saing dan kapasitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kemenperin menilai, Bazar Ramadhan memiliki peran strategis sebagai ruang interaksi ekonomi sekaligus sarana memperkuat kecintaan terhadap produk dalam negeri.
















