“Tentu kita patut bersyukur dengan kondisi stok beras secara nasional untuk awal tahun 2026, sangat tinggi dan sangat aman. Ini berkat kerja keras para petani dan dukungan Kementerian Pertanian beserta stakeholder lainnya,” kata Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa.
“Sesuai arahan Bapak Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman, Indonesia tidak perlu impor beras konsumsi di tahun 2026. Ini melanjutkan komitmen pemerintah dalam mendukung petani Indonesia karena tahun 2025 juga tidak ada impor. Pemerintah optimistis ketersediaan beras ini sangat kuat. Indonesia telah mencapai swasembada beras,” ujarnya, dikutip laman Bapanas.
Keputusan tidak adanya impor beras umum dan bahan baku industri diambil pemerintah saat menetapkan Neraca Komoditas Tahun 2026. Dalam forum yang diampu Kementerian Koordinator Bidang Pangan itu dipastikan tidak ada kesepakatan terkait kuota impor beras umum.
Pada tahun 2025 lalu pun, Indonesia tidak ada melakukan impor beras umum yang sebelumnya pernah ditugaskan ke Perum Bulog untuk penguatan stok CBP.
Sementara impor beras bahan baku industri juga tidak ada di 2026. Dengan tidak adanya impor beras bahan baku industri di 2026, pemerintah mendorong pelaku usaha nasional agar dapat lebih mengoptimalkan bahan baku lokal berupa beras pecah dan beras ketan pecah.
Terpisah, Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman sangat yakin ketersediaan beras secara nasional sangat aman.
Ia bahkan menuturkan ketersediaan beras masih mencukupi hingga momen Ramadan dan Lebaran mendatang.
“Inilah stok tertinggi di akhir tahun selama merdeka. (Jadi) bukan aman, ada sangatnya, (stok kita) sangat aman. Sekarang tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus. Jadi tidak ada masalah sampai Ramadan. Tidak ada masalah. Semua aman,” ucapnya.

















