Sementara itu, perwakilan Mesir menekankan perlunya kerangka tata kelola AI yang menyeimbangkan inovasi teknologi dengan perlindungan masyarakat serta kedaulatan data nasional.
Indonesia turut berbagi pengalaman sebagai negara kepulauan dengan tingkat keberagaman geografis yang tinggi, di mana konektivitas digital dan teknologi menjadi instrumen penting untuk pemerataan layanan publik.
Dengan lebih dari 80 persen populasi telah terjangkau internet, fokus pembangunan digital Indonesia kini bergeser dari perluasan akses menuju peningkatan kualitas pemanfaatan teknologi, termasuk penggunaan AI untuk layanan publik dan pembangunan sosial.
India AI Impact Summit 2026 sendiri menjadi momentum penting bagi negara-negara berkembang untuk memperkuat kolaborasi global dalam membangun AI yang inklusif, dapat dipercaya, dan berorientasi pada kemanfaatan publik.
Melalui forum ini, negara-negara Global South mendorong pengembangan AI sebagai public good, teknologi yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat kesejahteraan sosial dan keadilan digital.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam forum ini sekaligus memperkuat posisi strategisnya sebagai negara penghubung (bridge country) yang menjembatani berbagai kepentingan global dalam tata kelola teknologi masa depan.
Partisipasi bersama Indonesia, Togo, dan Mesir menunjukkan bahwa masa depan AI tidak lagi hanya ditentukan oleh negara maju atau perusahaan teknologi besar.
Negara-negara berkembang kini semakin aktif merumuskan prinsip dan arah pemanfaatan teknologi agar mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah percepatan perkembangan teknologi global, Indonesia menegaskan bahwa keberhasilan AI pada akhirnya tidak diukur dari kecanggihan teknologi semata, tetapi dari kemampuannya meningkatkan kualitas hidup manusia dan menghadirkan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.***
















