TERASJABAR.ID – Jakarta kembali bergolak. Demo berjilid-jilid. Ribuan mahasiswa memenuhi Jalan Gatot Subroto, di depan gedung DPR.
Di Yogyakarta, barisan mahasiswa UGM, UNY, hingga UIN bergerak menuju Tugu Pal Putih, menyanyikan yel-yel perjuangan yang seakan menggaungkan kembali semangat 1998.
Dari Medan, Surabaya, Makassar, hingga Jayapura, aksi serupa terjadi.
Gelombang demonstrasi 2025 ini bukan sekadar protes lokal, melainkan perlawanan nasional terhadap apa yang disebut rakyat sebagai “demokrasi palsu.”
Tahun 1998
Dua puluh tujuh tahun silam, Indonesia pernah mengalami hal serupa. Beda dikit!
BACA JUGA: Presiden Tegaskan Kebebasan Berpendapat, Tolak Kekerasan dalam Aksi
Waktu itu, ada krisis moneter. Rupiah turun tajam, harga sembako meroket, pengangguran merajalela dan puluhan juta orang terjebak dalam kemiskinan.
Di balik itu, wajah asli Orde Baru, –korupsi, kolusi, nepotisme– kian jelas.
Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, dengan empat mahasiswa tewas tertembak, menjadi pemicu revolusi.
Tekanan rakyat memuncak, dan pada 21 Mei 1998 Soeharto mundur setelah 32 tahun berkuasa.
Tahun 2025
Kini, mahasiswa turun ke jalan bukan melawan seorang diktator, melainkan melawan sistem yang dianggap dikuasai dinasti dan oligarki.
Janji reformasi berubah menjadi demokrasi semu.
Presiden Jokowi dituding mewariskan politik keluarga, sementara proyek besar seperti IKN dinilai membebani rakyat.
Utang negara menumpuk, harga kebutuhan naik, dan oligarki semakin menguasai ekonomi.
Kesamaan dan Perbedaan
Baik 1998 maupun 2025 lahir dari rasa dikhianati.
Dulu, janji pembangunan Orde Baru. Kini, janji reformasi.
Namun perlawanan 2025 jauh lebih luas: mahasiswa, buruh, petani, aktivis lingkungan, hingga influencer muda bergerak bersama.
Perbedaan lainnya ada di media: jika 1998 mengandalkan pamflet dan radio kampus, maka 2025 bergerak lewat TikTok, whatsapp, Instagram, dan hashtag yang mendunia.
Apakah 2025 akan melahirkan perubahan nyata, atau sekadar mengulang kegagalan reformasi?
Sejarah kini kembali menunggu: apakah rakyat benar-benar mampu merebut kembali demokrasi yang selama ini dirampas.-***