Hal ini disebabkan menurunnya permintaan dalam negeri yang berasal dari pengadaan pemerintah.
“Karena bulan ini masih memasuki awal tahun anggaran dan Bulan Ramadhan, sehingga banyak proyek infrastruktur yang belum berjalan. Sehingga permintaan produk bahan bangunan (BGNL) juga ikut turun. Kemungkinan besar akan dimulai setelah lebaran,” tuturnya.
Pada variable produksi Industri Kayu, Barang dari Kayu, dan Gabus, kontraksi yang terjadi dipicu oleh ketidakpastian global dan beberapa kekhawatiran pelaku industri terhadap dampak kesepakatan perdagangan global.
“Subsektor Industri Komputer, Barang Elektronik, dan Optik, mengalami penurunan pada pesanan luar negeri yang menyebabkan terjadinya kontraksi pada IKI Februari 2026. Selain itu, komponen elektronik berbahan baku semikonduktor saat ini tengah mengalami kelangkaan,” kata Direktur Industri Peralatan Pertanian dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Solehan.
Kedua orientasi pasar IKI baik ekspor maupun impor masih berada dalam zona ekspansi meskipun mengalami sedikit perlambatan.
IKI orientasi ekspor pada bulan Februari 2026 berada di level 54,61 atau melambat 0,01 poin dibanding bulan Januari 2026 yang berada di level 54,62.
Sedangkan IKI berorientasi pada pasar domestik berada di level 53,12, melambat 0,13 poin dibanding bulan Januari 2026 yang berada di level 53,25.
Secara umum, kondisi kegiatan usaha pada Februari 2026 masih tergolong baik. Sebanyak 77,6 persen responden menyampaikan kegiatan usahanya membaik dan stabil.
Tingkat optimisme pelaku usaha meningkat menjadi 73,5 persen, sementara tingkat pesimisme menurun menjadi 3,9 persen.
Seluruh variabel pembentuk IKI, yakni pesanan, produksi, dan persediaan, berada pada zona ekspansi.
Variabel produksi mencatat ekspansi tertinggi sejak Januari 2025 dan telah berada pada fase ekspansi selama dua bulan berturut-turut.***


















