Faktor Pemicu Global: Selat Hormuz dan Krisis Energi
Konflik di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak Brent dan WTI hingga sempat menyentuh US$113 per barel. Sebagai negara importir minyak, Indonesia menghadapi ancaman pembengkakan subsidi energi. “Ini adalah contagion effect yang menular ke seluruh rantai pasok dan daya beli masyarakat,” tambah Kusfiardi.
Rekomendasi Strategi Investasi Update
Melihat volatilitas yang masih tinggi, Kusfiardi menyesuaikan rekomendasi menjadi lebih defensif. Pertama, Rasio Kas: Tingkatkan likuiditas minimal 40% dalam portofolio untuk fleksibilitas. Kedua, Sektor Defensif: Prioritaskan sektor Energi (PERT, MEDC) dan Konsumer Primer (UNVR, ICBP). Ketiga, Hindari Sektor Sensitif: Kurangi eksposur pada Properti, Konstruksi, dan Transportasi yang rentan terhadap fluktuasi suku bunga dan pelemahan Rupiah. Keempat, Diversifikasi: Pertimbangkan aset safe haven seperti obligasi pemerintah dan emas fisik.
“Pekan ini adalah ujian penting. Jika level support IHSG di 7.000–7.100 mampu bertahan, kita bisa mengharapkan rebound terbatas. Namun, prioritas utama tetap mitigasi risiko terhadap kemungkinan breakout kembali ke atas Rp17.000 yang dapat mengancam stabilitas APBN,” tutup Kusfiardi.***
















