TERASJABAR.ID – Akses transportasi udara yang terjangkau masih menjadi tantangan besar dalam upaya memperkuat konektivitas nasional.
Mahalnya tiket pesawat domestik dinilai menghambat mobilitas masyarakat sekaligus melemahkan fungsi penerbangan sebagai penghubung utama antarwilayah di Indonesia.
Anggota Komisi V DPR RI Saadiah Uluputty menyoroti persoalan tersebut sebagai keluhan publik yang terus berulang.
Ia menilai situasi menjadi ironis ketika harga tiket penerbangan dalam negeri justru lebih mahal dibandingkan rute internasional jarak dekat.
Menurutnya, kondisi ini tidak sejalan dengan semangat pemerataan akses transportasi bagi seluruh warga negara.
Saadiah menjelaskan, tingginya harga tiket tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi faktor struktural seperti mahalnya avtur, beban pajak, serta biaya perawatan pesawat yang masih bergantung pada komponen impor.
Faktor-faktor tersebut, kata dia, perlu dikaji dan dievaluasi secara komprehensif oleh pemerintah.
Ia menegaskan bahwa transportasi udara memiliki peran strategis dalam membuka akses ekonomi daerah, mendukung pariwisata, mempercepat distribusi barang dan jasa, serta mendorong pemerataan pembangunan.
Karena itu, kebijakan tarif penerbangan harus dipandang sebagai bagian dari pelayanan publik, bukan semata urusan bisnis.
Bagi wilayah kepulauan dan Indonesia Timur, lanjut Saadiah, pesawat merupakan kebutuhan utama.
Jika harga tiket terus tinggi, akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi akan semakin terbatas.
Sebagai penutup, ia mendorong pemerintah meninjau ulang kebijakan tarif, termasuk batas atas dan bawah serta beban fiskal, agar penerbangan domestik menjadi lebih adil, terjangkau, dan inklusif bagi masyarakat luas.-***
















