Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan tren penurunan harga pakan ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan usaha peternakan nasional.
Menurutnya, pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam usaha peternakan unggas sehingga setiap penurunan harga pakan akan berdampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi peternak.
“Penurunan harga pakan tentu menjadi kabar baik bagi peternak karena dapat membantu menekan biaya produksi. Jika biaya produksi lebih efisien, maka usaha peternakan dapat berjalan lebih berkelanjutan dan pada akhirnya turut menjaga stabilitas harga produk seperti ayam dan telur di tingkat konsumen,” katanya.
Meski demikian, Agung mencatat penurunan harga pakan saat ini baru dilakukan oleh sebagian pabrik pakan. Dari sekitar 87 pabrik pakan unggas yang beroperasi di Indonesia, sekitar 33 pabrik atau sekitar 38 persen telah melakukan penyesuaian harga.
“Sesuai arahan Menteri Pertanian, kami terus melakukan pemantauan harga melalui sistem SPORA serta menjalin komunikasi dengan industri pakan. Penyesuaian harga ini merupakan langkah positif yang diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi biaya produksi peternak,” ujarnya.
Kementerian Pertanian juga mendorong pabrik pakan lainnya untuk mengikuti langkah penyesuaian harga agar manfaat efisiensi biaya produksi dapat dirasakan lebih luas oleh peternak di berbagai daerah.
Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan industri pakan terus melakukan berbagai langkah efisiensi agar harga pakan semakin kompetitif.
“Industri pakan terus melakukan penyesuaian agar harga pakan dapat lebih kompetitif. Kami juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang efisien sehingga dapat mendukung keberlanjutan usaha peternakan nasional,” kata Desianto.
















