Secara umum, paha depan lebih banyak dimanfaatkan untuk olahan berkuah atau dimasak dalam waktu lama seperti rendang, semur, dan sop karena kandungan jaringan ikatnya membuat cita rasa lebih kuat setelah proses pemasakan.
Sementara paha belakang yang teksturnya lebih padat dan relatif minim lemak kerap digunakan untuk olahan seperti dendeng, empal, abon, maupun irisan tipis untuk tumisan. Perbedaan karakteristik potongan tersebut turut memengaruhi preferensi konsumen dan struktur harga yang ada di pasar.
Deputi Ketut Astawa menjelaskan, stabilitas harga di tingkat konsumen sejalan dengan harga di tingkat feedloter dan RPH yang masih berada dalam kisaran Harga Acuan Pemerintah (HAP). Dengan demikian, struktur harga dari hulu hingga hilir tetap terkendali dan transparan.
“Untuk harga karkas di pasar, paha depan Rp130 ribu per kilogram dan paha belakang Rp140 ribu per kilogram. Jika diminta tanpa lemak atau tetelan sehingga menjadi daging murni, tentu terdapat perbedaan harga. Namun secara umum masih dalam batas kewajaran sesuai HAP,” jelasnya.
Dalam kunjungan ke RPH Ciroyom, harga daging sapi berikut lemak dan tetelannya tercatat berkisar Rp105.000 per kilogram di tingkat RPH.
Kondisi ini menunjukkan struktur margin distribusi masih dalam batas normal hingga sampai ke konsumen akhir. Sementara pada kunjungan ke feedloter PT Sapi Liar, harga sapi hidup saat ini stabil di Rp55.000/kg.
Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta pelaku usaha guna memastikan distribusi berjalan lancar dan stok mencukupi hingga Idulfitri.
Masyarakat juga diimbau berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
















