Kisah sahabat Hanzhalah yang merasa dirinya munafik karena imannya naik turun , justru memperlihatkan kebijaksanaan Nabi ﷺ. Rasul tidak mematahkan Hanzhalah, tetapi menenangkan, iman memang tidak selalu berada di puncak. Yang penting bukan selalu tinggi, melainkan selalu kembali. Ini adalah arsitektur hidup yang manusiawi.
Habit architecture dalam perspektif Islam bukan soal produktivitas semata, tetapi penataan hidup berdasarkan orientasi akhirat. Dunia dijalani, bukan ditinggalkan. Tubuh dijaga, bukan dipaksa. Keluarga dihadirkan, bukan dikorbankan. Ibadah dilakukan dengan cinta, bukan keterpaksaan.
Ketika hidup disusun dari identitas yang benar, kebiasaan tidak lagi terasa berat. Shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi penopang ritme hidup. Kerja bukan pelarian dari iman, tetapi perwujudan amanah. Istirahat bukan kemalasan, tetapi bentuk syukur.
Maka mungkin yang perlu kita perbaiki hari ini bukan target hidup, melainkan arsitektur kebiasaan. Bukan menambah beban, tetapi menata ulang arah. Karena hidup yang baik bukan hidup yang paling sibuk, tetapi hidup yang paling sadar ke mana ia menuju.***












