Sebagai aktivis mahasiswa yang sudah terlebih dahulu mengembara di media umum yang ada di Indonesia, menjadi redaktur seni dan budaya untuk sebuah majalah kampus seperti menemukan habitat tempat bermain yang mengasyikkan. Hingga kesempatan untuk mengenal lebih dekat sejumlah tokoh nasional sekaliber Gus Dur bisa disambangi saat berada di Tanan Ismail Marzuki maupun langsung ke rumahnya di Jalan Warung Sila saat baru saja dibangun dan belum sepenuhnya rampung dan siap digunakan. Tapi realitasnya dari kesederhanaan Gus Dur rumah yang belum sepenuhnya rampung itu sudah ditempatinya.
Jadi persinggungan sebagai aktivis kampus dengan sejumlah tokoh seperti Gus Dur tidak hanya terjadi di Kantor Majalah Kampus saat berdiskusi untuk mempersiapkan Laporan Utama yabg hendak disajikan, tapi juga terus berlanjut di berbagai forum diskusi seperti di kediaman Dr. Sudjotmoko maupun di Kantor PB. Nahdatul Ulama, Jl. Matraman, Jakarta Pusat, saat Gus Dur memangju jabatan Ketua Umum Organisi Umat Islam yang terbilang cukup besar di Indonesia.
Pernah juga suatu ketika Gus Dus ditampilkan bersama sejumlah seniman dan budayawan di Gedung Senisono, Yogyakarta antara tahun 1980-an, belum menjadi bintang panggung sehingga menimbulkan semacam rasa kecemburuan Emha Ainun Nadjib untuk mengolok-olok Gus Dur yang menganggap satu kampung — dari Jombang — tapi beda dalam mazhab politik maupun kesenian. Jadi bagaimana pun, Gus Dur tidak hanya mempunyai seabrek ide dan gagasan yang genial, tapi juga memiliki selera humor yang tinggi dan bermutu. Dan karya tulis Gus Dur seperti ulasan tentang pertandingan sepak bola sungguh mengagumkan. Apalagi ulasan politik dan budaya yang memang menjadi wilayah pengembaraan atau kekuasaannya. Karena Gus Dur memang mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh banyak orang.
Begitu juga saat penulis aktif bersama Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) tak hanya sering menyambangi Gus Dur di Kantor PB. NU, tapi juga bergabung dengan Forum Demokrasi yang dibesut Gus Dur bersama Marsilam Simanjuntak di markasnya kawasan Gondangdia, Jakarta. Forden sendiri yang dibesut Gus Dur bersama Marsilam Simanjuntak — yang juga acap dihadiri Rocky Gerung dan Bondan Gunawan.
Ketika Gus Dur masih aktif di lingkungan Dewan Kesenian Jakarta, baru banyak khalayak yang tahu bila Gus Dur sungguh memiliki kemampuan menyimak pembicaraan banyak orang sambil tertidur pulas. Sebagai salah satu nara sumber foto Gus Dur yang sedang tertidur ditengah forum diskusi diabadikan oleh pelukis Hardi yang juga sebagai watawan Majalah Sastra Hirison. Pikiran dan pendapat yang otentik bahkan nyentrik dari Gus Dur tak hanya mampu membangun politik menjadi humor, tapi humor politik Gus Dur sungguh sangat mengesankan dan bernas. Bayangkan saja dalam forum yang cukup besar beliau sering menggoda pemikiran siapapun, seperti melontarkan konsep tentang marxisme yang Islamis sungguh menjadi pertanyaan yang belum terhawab sampai sekarang.***
Banten, 2 Januari 2026












