Dewi Farah | Anggota Satupena Jawa Timur
Di atas meja makan yang sederhana, semangkuk gulai Bandeng mengepulkan aroma yang menembus batas kenangan. Kuahnya kuning keemasan, seolah menyimpan matahari sore yang tenggelam di balik ladang padi. Setiap sendoknya adalah perjalanan pulang ke rumah, ke masa kecil, ke pelukan ibu yang tak pernah letih menanak nasi.
Bandeng dalam gulai itu bukan sekedar ikan; ia adalah kisah yang berenang di antara rasa dan waktu. Dagingnya lembut, seperti tutur halus seorang nenek yang menasehati cucunya. Bumbunya meresap dalam, berpadu antara pedas, gurih dan manis – seperti hidup yang tak pernah benar-benar datar.
Ketika gulai Bandeng tersaji, meja makan berubah menjadi panggung kebersamaan. Tawa-tawa pecah, sendok beradu, dan cerita mengalir seperti kuah yang tak pernah habis di seruput. Tak peduli siapa yang duduk di sekelilingnya-orang tua, anak muda, atau tamu dari jauh-semua tunduk pada pesona yang sama; kelezatan yang menyatukan.
Gulai Bandeng bukan hanya sekedar makanan, melainkan bahasa cinta yang di masak dengan sabar. Ia mengajarkan bahwa rasa terbaik lahir dari perpaduan: rempah yang berani, api yang sabar dan hati yang tulus. Maka tak heran, di setiap rumah yang mengenalnya, gulai bandeng selalu menjadi favorit semua-karena di dalamnya tersimpan rahasia yang sederhana: cinta yang di masak hingga matang.
Pamekasan, 2025











