“Gerakan Pangan Murah ini adalah salah satu solusi dari berbagai solusi. Solusi yang sering kita lakukan adalah Gerakan Pangan Murah memang. Kemudian SPHP atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Beras medium yang dilakukan oleh temen-temen Bulog. Kemudian kita juga melakukan FDP (Fasilitasi Distribusi Pangan),” urai Ketut.
Tujuan pemerintah menggempur dengan berbagai program intervensi pangan tersebut, menurut Ketut adalah untuk menjaga harga. Namun harga yang ia maksud adalah harga yang wajar bagi konsumen dengan keuntungan yang wajar pula bagi para pelaku usaha.
“Kemudian ini juga adalah salah satu solusi disambung juga pengawasan. Jadi kolaborasi semua strategi yang kita punya kita lakukan, sehingga harapan kita, sekali lagi stoknya bagus maka harganya kita harus wajar. Bukan tidak boleh untung tapi wajar mencari untungnya, supaya masyarakat nyaman dalam rangka melaksanakan ibadah puasa sampai hari raya,” katanya.
Sekilas target program intervensi pangan di 2026 yang direncanakan Bapanas antara lain SPHP beras dengan target 828 ribu ton. Kemudian ada SPHP jagung pakan dengan target salur ke peternak 242 ribu ton.
Ada pula bantuan pangan beras dan minyak goreng alokasi Februari dan Maret dengan sasaran penerima lebih dari 33 juta Keluarga.
Untuk GPM sepanjang tahun 2026 ini, Bapanas menargetkan dapat mencapai sebanyak 13.500 kali. Sebagai informasi, realisasi GPM pada 2025 yang dikoordinir Bapanas adalah sebanyak 13.321 kali.***
















