Oleh Aguk Irawan MN
Tak ada berita baik dari Pakistan sampai hari ke 5, sejak kesepakatan gencatan senjata, dan saat itu Trump menyetujui 10 syarat yang diajukan Iran. JD Vance, Wakil Presiden AS dan Steve Witkoff nampaknya akan pulang dengan tangan hampa. Tidak ada jabat tangan yang hangat dari Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran dan Abbas Araghchi.
Kini, yang ada hanyalah sebuah pesan tegas dari Teheran: Kedaulatan tidak untuk ditawar. Sbb, dua tuntutan AS—pemindahan uranium ke luar negeri dan pembukaan kembali Selat Hormuz—ditolak mentah-mentah oleh Iran. Penolakan ini bukan sekadar defiance (pembangkangan) biasa, tetapi ini adalah psywar berat, sbb Iran sadar mereka datang ke Pakistan bukan sebagai pemohon, melainkan sebagai pemenang.
Di sinilah adu strategi AS nampak “kedodoran”. Pentagon mungkin salah langkah. Nyatanya, mereka lebih membutuhkan negosiasi ini daripada Iran, anehnya AS masih saja memilih menjadi “pelayan” agenda Israel daripada mengutamakan stabilitas nasionalnya sendiri. Dari hari ke hari gelombang demo di Washington makin membesar.
Bayangkan, 17 pangkalan militernya dilaporkan hancur. 41 hari Selat Hormuz tertutup. 41 hari pula diplomasi AS gagal membuka jalur nadi energi dunia itu. Ini bukan sekadar kegagalan taktis, melainkan tamparan keras geopolitik. Saat AS memaksa uranium Iran “dibuang” keluar, Iran menjawabnya dengan diam: garis merah itu tetaplah merah! Tidak ada opsi lain. Iran menempatkan posisi mereka di atas angin (upper hand).
Kini, bola panas sepenuhnya berada di tangan AS. Pilihannya sempit: mencari jalan berliku untuk putaran kedua negosiasi, atau Resuming a War—melanjutkan perang dan perang lagi. Dan, secara kalkulasi, gagalnya negosiasi di Pakistan adalah kemenangan strategis telak bagi Iran.
Selama uranium mereka aman dan Hormuz tertutup, Iran sedang memegang kendali sepenuhnya. Ketika gencatan senjata berlangsung, pelajar Iran bersama tim senjatanya terus memproduksi drone dengan tenang, serta melakukan konsolidasi militer, merapikan logistik, tentu dengan dukungan penuh Rusia, Korut dan China yang tersenyum dari kejauhan.
Bagi AS dan Israel, memilih perang besar-besaran saat ini mungkin tindakan “konyol”. Namun, jika ambisi dan arogansi menutup mata mereka, Iran lebih siap. Senjata-senjata mereka makin banyak dan fit, stock balistik berlimpah, pemimpinnya teguh, yang gugur terganti oleh kader militan secara rapi, dan rakyatnya solid mendukungnya.
Sebaliknya, mari kita lihat kondisi di balik panggung AS dan Israel. Netanyahu mungkin sedang dalam “tiarap” secara politik. Tekanan rakyat Israel yang jengah, kasus korupsi, hukuman 4500 tahun dari Turki atas genosida, kecaman Eropa yang dimotori Spanyol, kemudian meluas sampai ke Irlandia, Norwegia, dan Slovenia.
Bahkan beberapa negera yang selama ini menjadi sekutu Israel dan AS seperti Prancis, Inggris, Belgia dan Denmark kini berbalik vokal mengkritik Israel dan AS. Tidak hanya mengkritik, tetapi di depan publik sudah siap memutus hubungan diplomatik. Pergeseran geopolitik global sedang menunjukkan gelombang yang signifikan, di mana kesadaran kolektif internasional terhadap invasi Israel-AS membawa dampak buruk secara global.
Kabar terkini, mengenai langkah-langkah Denmark—yang diberitakan memperketat sikap diplomatik dan meninjau kembali ekspor senjata—menjadi salah satu contoh bagaimana negara-negara Barat mulai mengambil sikap tegas, menandai keretakan dalam aliansi yang selama ini dianggap solid.
Di satu sisi, Netanyahu nampak tidak sedang berperang, ia sedang berlari dari ajal politiknya. Sementara Trump, ia makin dihimpit tekanan politik internalnya, impeachment Kongres, kekacauan Pentagon, dan ketidakstabilan ekonomi global yang dipicu oleh macetnya Hormuz.
Di Pakistan, arogansi Barat mulai ciut dengan keyakinan Timur. Gagalnya negosiasi ini menegaskan satu hal: era dikte Amerika atas dunia sedang berada di senjakala. Iran telah menunjukkan bahwa keberanian menolak tunduk adalah senjata terkuat.
Kini, nasib ada di tangan mereka sendiri. Melanjutkan perang dengan segala konsekuensi kehancuran atau berhenti, dan mengakui hak-hak kedaulatan Iran sebagai bangsa yang merdeka. Jawabannya ada dalam kepala Trump dan Netanyahu. Wallahu’alam (Aguk Irawan MN)
















