Dengan prinsip inklusivitas, sektor manufaktur diharapkan dapat melibatkan peran yang lebih besar dari tenaga kerja penyandang disabilitas.
Namun demikian, Reni menjelaskan bahwa akses penyandang disabilitas ke sektor manufaktur masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain keterbatasan akses informasi pekerjaan, kesenjangan kompetensi dengan kebutuhan industri, minimnya jejaring kemitraan formal, serta lingkungan kerja yang belum sepenuhnya inklusif.
“Kegiatan ini dilaksanakan untuk meningkatkan serapan tenaga kerja penyandang disabilitas di sektor industri sekaligus membuka akses kerja sama antara Sekolah Luar Biasa dengan industri manufaktur,” ujar Reni.
Melalui kegiatan ini, peserta didik disabilitas tingkat SMA/sederajat dapat memahami kebutuhan kompetensi industri sehingga mampu menyesuaikan diri dengan standar dan ekspektasi dunia kerja.
Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan membangun jejaring kemitraan berkelanjutan antara satuan pendidikan disabilitas, peserta didik, dan dunia usaha, khususnya sektor industri manufaktur.
Sebanyak 45 siswa disabilitas kelas XII SLB dari delapan kabupaten/kota di Jawa Tengah berkesempatan bertemu langsung dengan 24 perusahaan manufaktur dari sektor industri agro, elektronik, tekstil dan produk tekstil, serta industri aneka di wilayah Jawa Tengah.
“Perusahaan manufaktur akan berdiskusi langsung dan menjalin komunikasi berkelanjutan dengan kelompok disabilitas yang didampingi oleh SLB Negeri Semarang dan Top Loker,” tambah Reni.
Dirjen IKMA menegaskan bahwa sektor manufaktur membutuhkan sikap kerja yang tekun, teliti, konsisten, dan loyal, yang justru sering kali menjadi keunggulan dari penyandang disabilitas.

















