TERASJABAR.ID – Pemerintah terus mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri manufaktur karena merupakan penggerak dan penopang perekonomian nasional, salah satunya melalui penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan.
Selain kuantitas, aspek inklusivitas juga menjadi perhatian utama, termasuk keterbukaan dan kesetaraan kesempatan kerja bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Termasuk penyandang disabilitas, agar dapat berpartisipasi aktif dalam pembangunan industri nasional.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, penguatan sektor industri manufaktur harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial dan inklusivitas. Sebab, sektor industri manufaktur memiliki peran strategis dalam menyerap tenaga kerja nasional.
“Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian berkomitmen memastikan agar pembangunan industri juga membuka ruang partisipasi yang setara bagi penyandang disabilitas, sehingga mereka dapat berkontribusi secara produktif dan mandiri dalam ekosistem industri nasional,” ujarnya, dikutip siaran pers Kemenperin.
Sejalan dengan komitmen tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) berkolaborasi dengan startup Top Loker (TopLoker.com) menyelenggarakan kegiatan “Pengembangan Inklusi Sektor Manufaktur untuk Disabilitas” di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Semarang.
Direktur Jenderal IKMA Reni Yanita mengungkapkan, kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi nyata antara pemerintah dan dunia usaha dalam memperluas akses kerja inklusif bagi penyandang disabilitas di sektor industri strategis.
“Kami bersama startup Top Loker menginisiasi kegiatan ini sebagai wadah yang membuka kesempatan dan peluang bagi teman-teman disabilitas untuk dapat berkarya dan berpartisipasi di sektor industri,” jelas Reni.
Hingga Agustus 2025, Kemenperin mencatat jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai 20,26 juta orang, atau sekitar 13,83 persen dari total tenaga kerja nasional.

















