TERASJABAR.ID – Pekan ini menjadi salah satu periode paling berat dalam perjalanan karier Brahim Diaz.
Pada Minggu lalu, ia memiliki peluang emas untuk mengakhiri penantian gelar Piala Afrika Maroko yang telah berlangsung selama 60 tahun dan menorehkan namanya dalam sejarah.
Namun, eksekusi penalti Panenka yang gagal justru membuatnya menjadi sorotan tajam.
Final tersebut berlanjut ke babak perpanjangan waktu setelah penalti Brahim sempat tertunda sebelum akhirnya berhasil digagalkan kiper Senegal, Edouard Mendy.
Brahim kemudian ditarik keluar pada awal extra time, sementara Senegal akhirnya keluar sebagai juara.
Kekalahan itu terasa sangat menyakitkan bagi Atlas Lions.
Di tengah kritik yang mengarah kepadanya, pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, memberikan pembelaan.
Dalam pernyataannya yang dikutip Diario AS, Enrique menilai kegagalan tersebut tidak layak dibesar-besarkan.
Ia mengingatkan bahwa banyak pemain besar seperti Zinedine Zidane dan Sergio Ramos juga pernah mengeksekusi penalti Panenka di laga krusial.
Menurutnya, ketika penalti semacam itu berhasil, pemain dipuji, tetapi ketika gagal, kecaman pun bermunculan.
Enrique juga menegaskan kualitas dan karakter Brahim sebagai pemain dan pribadi yang istimewa.
Ia menilai tekanan semacam ini adalah bagian dari sepak bola, dan kalah bukanlah akhir segalanya.
Usai insiden tersebut, Brahim menyampaikan permintaan maaf emosional kepada publik Maroko.
Dukungan pun datang dari Real Madrid, termasuk Alvaro Arbeloa dan rekan setimnya, menjelang kembalinya Brahim ke klub dan potensi tampil saat melawan Villarreal.-***











