“Ditjen IKMA memfasilitasi penyediaan booth yang berada dalam satu island. Kami berharap dengan dukungan ini, IKM mampu mengerahkan segala potensinya dengan mencatat penjualan yang tinggi dan memperkuat posisinya di pasar nasional dan global melalui ekspansi pasar,” ujarnya.
Dirjen IKMA juga menyampaikan, sejumlah produk yang ditampilkan oleh IKM terfasilitasi pada ajang Inacraft kali ini berhasil memamerkan inovasi dan desain kerajinan tangan, yang disesuaikan dengan kebutuhan serta selera pasar.
“Kami mengapresiasi upaya pelaku IKM dalam negeri yang semakin kreatif mengeksplorasi berbagai sumber bahan baku lokal setempat dan melakukan modifikasi agar dapat diterima pasar luas,” ujarnya.
Industri kerajinan, menurut Reni, juga memiliki potensi pasar ekspor yang harus dimaksimalkan. Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi Kemenperin, kinerja ekspor kerajinan pada triwulan III tahun 2025 mencapai 305,54 juta dolar AS, meningkat pesat dari triwulan sebelumnya sebesar 173,5 juta dolar AS.
Kinerja positif ini menunjukkan bahwa produk kerajinan lokal dari Indonesia dapat terus tumbuh dan bersaing di pasar global.
”Bahan baku lokal yang dipadu dengan sentuhan seni dan aspek desain menghasilkan karya bernilai jual tinggi. Oleh karena itu, kami mendorong pelaku IKM untuk terus menghadirkan produk yang inovatif, kreatif, dan memiliki karakter kuat agar dapat meningkatkan daya tarik produk kerajinan Indonesia di mata konsumen nasional maupun internasional,” katanya.
Ditjen IKMA mencatat, total transaksi penjualan yang dihasilkan oleh delapan IKM yang difasilitasi selama pameran Inacraft 2026 berlangsung mencapai Rp 338,16 juta.
“Data tersebut menunjukkan tingginya minat pasar terhadap produk kerajinan IKM, sekaligus menegaskan bahwa pameran menjadi sarana efektif untuk meningkatkan eksposur produk dan mengukur respon pasar,” tegas Reni.

















