Di antaranya, reduksi kosmos menjadi sekadar materi, reduksi kehidupan menjadi sekadar biologis, reduksi pikiran menjadi sekadar mekanisme otak, dan reduksi agama menjadi sekadar konstruksi sosial.
Selain itu, Smith, seorang sarjana studi agama asal Amerika, lahir di Suzhou, Tiongkok, pada 31 Mei 1919 dan wafat di usia 97 tahun pada 30 Desember 2016 di Berkeley, California, dalam “Why Religion Matters: The Fate of the Human Spirit in an Age of Disbelief” terbit pertama pada 2001 oleh HarperCollins, penting didalami terkait tafsir ikhtilaf ekoteologi.
Merujuk buku ini, Smith menggunakan metafora “terowongan modernitas” untuk menggambarkan bagaimana manusia terjebak dalam reduksi realitas.
Ia mengidentifikasi empat sisi terowongan yang menjadi tantangan iman(agama) sebagai fondasi ekoteologi:
1/ Lantai terowongan: Scientism – reduksi kosmos menjadi sekadar materi, sehingga dimensi transenden diabaikan.
2/ Dinding kiri: Higher Education – pendidikan modern yang fungsional tetapi kehilangan jiwa, hanya menekankan keterampilan teknis tanpa spiritualitas.
3/ Atap terowongan: Media – budaya massa yang men-trivial-kan nilai, mengalihkan perhatian dari kedalaman spiritual ke hiburan dangkal.
4/ Dinding kanan: Legal System – sistem hukum yang kehilangan moralitas, sekadar aturan formal tanpa fondasi etis atau spiritual.
Keempat “terowongan” ini, menurut Smith, membuat baik kaum beriman maupun tidak beriman sama-sama kehilangan horizon transenden, sehingga agama menjadi semakin penting untuk mengembalikan kedalaman makna hidup.
Namun, krisis dua iman—rasio dan rasa—satu Tuhan juga bisa diperdalam melalui refleksi filsafat ketuhanan Nietzsche dalam Antichrist.
Nietzsche menolak pertentangan moral tuan (Herrenmoral) versus moral budak yang mendominasi tradisi humanisme Eropa abad ke-19 akhir.
Baginya, iman yang tunduk pada moral budak justru mengekang vitalitas manusia. Kritik Nietzsche ini, meski keras, membuka ruang untuk menimbang kembali relasi antara iman, rasio, dan kebebasan.
Dalam Antichrist(1895;Terjemahan 2000), Nietzsche menyinggung soal moral tuan (Herrenmoral) dan moral budak(Sklavenmoral).
Dikutip ia mengungkapkan:
“Peradaban ini didasarkan pada moralitas tuan yang tidak takut akan realitas, hidup penuh gairah dan apa adanya. Keberanian dalam moral tuan dianggap sebagai baik. Sebaliknya, apa pun yang membuat seseorang rendah hati, kurang ambisi, dan semangat mengampuni dianggap buruk.”
Kutipan ini menunjukkan bagaimana Nietzsche melihat moral tuan sebagai ekspresi vitalitas dan keberanian, sementara moral budak lahir dari kelemahan, kerendahan hati, dan ressentiment(rasa dendam).
Kritiknya terhadap moral budak menjadi bagian dari penolakannya terhadap tradisi humanisme Eropa abad ke-19 yang menurutnya mengekang kehendak kuasa manusia.
Dengan demikian, “dua iman satu Tuhan” bukan sekadar slogan filsafat ketuhanan, melainkan sebuah tantangan: bagaimana iman dan rasio, rasa dan nalar, bisa berdialog tanpa saling meniadakan.
Ekoteologi memberi jalan baru, dengan menempatkan alam sebagai saksi sekaligus mitra dalam perjalanan spiritual. Bukan fase penenggang dan penafian antara alam dan ciptaan.
Di tengah krisis iman modern, dialog lintas tradisi seperti Eco dan Martini, refleksi Huston Smith, dan kritik Nietzsche, mengingatkan bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam dogma, tetapi juga dalam kesadaran manusia yang berani merangkul kompleksitas hidup.
coversongs:
Lagu “Faithful Journey” dari Love Mind BGM dirilis pada 2024 melalui label Records DK dan didistribusikan lewat DistroKid.
Pesan spiritualnya, meski tanpa lirik eksplisit, Faithful Journey memberi kesan bahwa perjalanan hidup yang penuh iman dan kesetiaan akan membawa kedamaian batin.
















