TERASJABAR.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dinilai dapat membawa dampak strategis bagi Indonesia.
Anggota DPR RI dari Komisi XII, Jalal Abdul Nasir, menilai dinamika politik di negara-negara Teluk berpotensi memengaruhi ketahanan energi nasional, kondisi fiskal, hingga daya beli masyarakat.
Menurutnya, konflik di kawasan tersebut tidak bisa dianggap jauh dari kepentingan Indonesia karena efeknya dapat langsung dirasakan pada sektor energi dan perekonomian domestik.
“Situasi geopolitik di Timur Tengah tidak boleh dipandang sebagai isu yang jauh dari kepentingan Indonesia. Dampaknya dapat langsung dirasakan pada sektor energi dan ekonomi nasional,” ujar Jalal, seperti ditulis Parlementaria pada Sabtu, 14 Maret 2026.
Saat ini, konsumsi minyak nasional berada di kisaran 1,5 hingga 1,6 juta barel per hari, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari.
Kondisi ini membuat lebih dari 60 persen kebutuhan minyak masih harus dipenuhi melalui impor.
Ketergantungan tersebut menjadikan Indonesia cukup rentan terhadap gejolak harga energi global.
Jalal menjelaskan, salah satu jalur penting dalam perdagangan minyak dunia adalah Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 hingga 30 persen distribusi minyak internasional.
Jika terjadi gangguan di kawasan itu, harga minyak dunia berpotensi melonjak.
Kenaikan harga minyak juga dapat berdampak pada anggaran negara.
Dalam APBN, sektor energi masih sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak, sehingga kenaikan sekitar 10 dolar per barel dapat meningkatkan beban subsidi dan kompensasi energi hingga triliunan rupiah.
Selain itu, lonjakan harga energi dapat memicu kenaikan biaya logistik, transportasi, serta harga pangan.
Karena itu, Jalal menilai pemerintah perlu memperkuat koordinasi kebijakan ekonomi serta mempercepat pengembangan energi baru terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.-***

















