Para pengusaha reklame tidak meminta perlakuan istimewa. Yang diminta sederhana, ruang dialog yang jujur, terbuka, dan berujung pada solusi. Aturan yang jelas, masa transisi yang manusiawi, dan kepastian usaha yang memungkinkan mereka bertahan dan berkontribusi bagi kota.
Jika dialog terus dibiarkan tidak tuntas, maka kebijakan akan terus dipersepsi sebagai tekanan, bukan penataan. Dan ketika dialog gagal, yang lahir bukan kepatuhan, melainkan kelelahan sosial.
Sudah saatnya dialog kebijakan di Kota Bandung dikembalikan ke esensinya, mendengar untuk memperbaiki, bukan sekadar menjelaskan untuk membenarkan. Karena kota yang besar bukan kota yang paling keras aturannya, tetapi kota yang paling dewasa dalam berdialog.***
















