Oleh Jacob Ereste /penulis-wartawan senior/
Setiap tindakan memilki konsekuensi yang harus dipertanggung jawabkan ketika di dunia dan kelak diakhirat. Karena itu kesadaran terhadap tindakan atau pilihan sikap yang salah, harus melakukan tobat nasuha, bukan saja sebagai pengakuan kesalahan, tapi juga sebagai janji kepada diri untuk tidak mengulang kesalahan yang sudah dilakukan itu, sehingga pantas untuk meminta ampun terhadap Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sekaligus Maha Pemaaf.
Masalahnya yang paling esensial adalah, sejauh mana makna dari tobat nasuha itu disadari dan dipahami sebagai pertobatan yang tulus dan ikhlas untuk mengakui kesalahan, bukan sekedar semacam interupsi untuk mengungkap berbagai alasan dan sanggahan terhadap kesalahan yang sudah dilakukan, agar Tuhan memberikan permakluman. Sebab hakihat dari tobat nasuha itu tidak bisa ditafsir untuk melakukan pembelaan diri, namun semata-mata kesadaran yang paling murni dan tulus dari pengakuan bersalah, misalnya ketika meyakini dugaan terhadap perbuatan orang lain yang melakukan pemalsuan, kesaksian bohong atau tipu daya demi dan untuk kelentingan diri sendiri dengan mengabaikan etika, moral dan akhlak terhadap publik yang dianggap kentut. Sehingga rasa ketersinggungan publik tercederai, merasa terhina, merasa dikadali dan tidak dianggap perlu untuk dihargai seperti hasrat terhadap perlakuan orang lain kepada diri kita sendiri.
Pernyaan seorang kawan aktivis mengenai sikap untuk meneguhkan konsistensi, mempertegas komitnen, melanjutkan perjuangan untuk melawan kezaliman, menjadi sangat menarik, bukan saja karena dilontarkan yang terkesan sangat spontan dari seorang kawan aktivis tersebut yang tampaknya jelas merasa dikhianati oleh sesama kawan aktivis yang lainnya. Pada akhirnya memang kelak, kesaksian sejarah pasti akan membutikan keculasan dan kemunafikan yang sesungguhnya terjadi dan telah dilakukan itu., demi dan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi. Sebab pejuang sejati yang sesungguhnya bukan saja sangat sadar bahwa sejarah tidak bisa dimanipulasi, karena bumi dan langit pasti konsisten mencatat kebesaran dan kebohongan, seperti sikap asli dan palsu — seperti wujud kemunafikan yang dikira tidak terbaca oleh banyak orang — karena apa pun cara dan upaya yang dilakukan untuk menyembunyikan kebusukan itu, kelak pasti akan terendus dan terkuak juga.















