Untuk memahami kebenaran klaim ini, kita perlu mengenal tarian Hora terlebih dahulu. Hora adalah tarian rakyat yang populer dalam budaya Yahudi, terutama di Israel. Tarian ini biasanya dilakukan dalam lingkaran dengan gerakan melangkah ke samping dan lompatan kecil, sering diiringi lagu tradisional seperti “Hava Nagila”. Hora memiliki sejarah panjang dan dikembangkan oleh komunitas Yahudi pada awal abad ke-20, dengan pengaruh dari tarian-tarian Balkan, Rusia, dan Timur Tengah. Tarian ini kerap ditampilkan dalam perayaan seperti pernikahan, Bar Mitzvah, atau hari raya Yahudi sebagai simbol kegembiraan dan kebersamaan.
Sekilas, ada kemiripan antara gerakan Hora dan Tarian Bagi-Bagi THR yang viral di Indonesia. Keduanya melibatkan langkah samping dan lompatan dalam formasi kelompok. Namun, kemiripan ini saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa tarian tersebut berasal dari tradisi Yahudi.
Fakta di Balik Tarian Bagi-Bagi THR
Setelah menelusuri asal-usul tren ini, beberapa fakta menarik terungkap. Pertama, Tarian Bagi-Bagi THR tampaknya berasal dari kreativitas pengguna media sosial di Indonesia, bukan adaptasi langsung dari budaya lain. Berdasarkan video awal yang muncul di TikTok, tarian ini pertama kali diunggah sebagai bagian dari konten hiburan Lebaran, tanpa ada indikasi bahwa penciptanya meniru tarian Hora secara sengaja. Musik yang digunakan pun bervariasi, mulai dari lagu pop Indonesia hingga irama dangdut, jauh dari melodi khas Yahudi seperti “Hava Nagila”.
Kedua, gerakan dasar seperti melangkah ke samping atau lompatan kecil bukanlah sesuatu yang eksklusif milik satu budaya.
Banyak tarian rakyat di seluruh dunia, termasuk di Balkan, Timur Tengah, bahkan Indonesia sendiri, memiliki elemen serupa karena sifatnya yang sederhana dan mudah dilakukan secara berkelompok. Sebagai contoh, tarian tradisional seperti “Poco-Poco” dari Indonesia juga menggunakan langkah samping yang mirip, namun tidak ada yang mengaitkannya dengan budaya Yahudi.
Ketiga, klaim bahwa tarian ini “berasal dari Yahudi” tampaknya muncul dari spekulasi dan sensasi di media sosial, bukan bukti konkret. Hingga saat ini, tidak ada dokumentasi atau pernyataan resmi dari pencipta tren yang menyebutkan bahwa tarian ini diadaptasi dari Hora atau tradisi Yahudi lainnya. Sebaliknya, konteks penggunaannya—yaitu perayaan Lebaran dan pembagian THR—jelas merupakan ciri khas budaya Indonesia.
Tanggapan Publik dan Ahli