TERASJABAR.ID – Bintang Putra Sugiatno, remaja berusia 16 tahun, tampil memukau bersama Bintang Production Band dengan warna musik pop-rock dalam acara Deklarasi Juragan Mio Motofest di kawasan Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (17/01/2026).
Meski masih belia, Bintang menunjukkan kematangan musikal di atas panggung. Dari tujuh lagu yang dibawakan, dua lagu merupakan karya ciptaannya sendiri berjudul Healing dan Hancur Hatiku. Lagu Healing dibawakan oleh Adelita, sementara Hancur Hatiku dinyanyikan oleh Riky Kecap.
Adelita mengaku bangga mendapat kepercayaan membawakan lagu ciptaan Bintang. Ia menilai Bintang sebagai anak muda berbakat dengan potensi besar di dunia musik.
“Terima kasih sudah mempercayakan lagu Healing kepada saya. Saya bangga, ada anak muda yang sudah berprestasi dan karyanya keren,” ujar Adelita.
Bintang mengungkapkan bahwa proses kreatifnya dalam menciptakan lagu tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Dengan fokus dan disiplin, ia mampu menyelesaikan sebuah karya dalam waktu relatif singkat.
“Sekitar satu minggu, itu sudah termasuk bikin lirik dan aransemen,” kata Bintang usai tampil di acara tersebut.
Meski sudah terbiasa tampil di atas panggung, Bintang menegaskan bahwa persiapan tetap menjadi kunci utama. Menurutnya, kesiapan mental sama pentingnya dengan penguasaan materi lagu.
“Lagu harus benar-benar dikuasai. Mental juga harus siap supaya di panggung nggak grogi,” ujarnya.
Kecintaannya pada dunia musik berakar dari lingkungan keluarga. Bintang mewarisi darah seni dari sang ayah yang pernah aktif di band rock. Dari sanalah ia mengenal musik-musik legendaris, termasuk Queen, yang turut membentuk karakter musikalnya.
Perjalanan bermusik Bintang dimulai dari piano klasik sebelum akhirnya menekuni keyboard secara serius. Sejak kecil, ia mengaku tidak pernah terpikir untuk meninggalkan dunia musik.
Dalam mengasah kemampuannya, Bintang menjadikan sejumlah musisi ternama sebagai panutan. Ia menyebut Jon Lord dari Deep Purple dan Jordan Rudess dari Dream Theater sebagai inspirasi internasional, sementara di dalam negeri ia mengagumi Ahmad Dhani.
“Kalau dari Indonesia, Ahmad Dhani. Dari luar, Jon Lord dan Jordan Rudess,” tuturnya.
Di balik permainan keyboard yang terdengar rapi, Bintang mengakui adanya tantangan tersendiri, terutama dari sisi fisik. Kelenturan tangan menjadi faktor penting, khususnya untuk genre pop-rock yang menuntut tempo cepat dan dinamika tinggi.
“Yang paling sulit itu fisik, terutama melenturkan tangan. Keyboard butuh tangan yang benar-benar siap,” katanya.
Dengan semangat dan konsistensi yang dijaga sejak dini, Bintang Putra Sugiatno hadir bukan sekadar sebagai pengisi acara, melainkan simbol regenerasi musisi muda yang patut diperhitungkan di kancah musik nasional.
“Dari kecil sudah yakin mau di musik, jadi nggak pernah kepikiran berhenti,” pungkasnya.
Sementara itu Ketua Penyelenggara Juragan Motofest Wilman mengatakan ia mengundang para biker se Indonesia untuk silaturahmi.
“Peserta mencapai 4.000 biker dengan target 6.000, tujuannya ingin mempersatukan para biker se Indonesia,” ujar Wilman.
Menurut Wilman di event ini, dihibur Talent talent muda seperti Bintang Production Band, anak muda gen z semua.
“Bintang karyanya menarik banget, lagunya meski baru rilis tapi enak dengerin dan bisa menjadi inspirasi anak anak muda,”.ujarnya.









